Salim Segaf:"Kunjungi Langsung Daerah-daerah Tertinggal."
"Insya Allah, jiwa kepedulian itu pasti ada. Contohnya, ketika kita berbuka puasa dengan sepiring nasi, saat akan makan datang seseorang yang juga sedang puasa, pasti kita mau berbagi."
Ustadz Salim Segaf Al Jufri dilahirkan di kota Solo pada tanggal 17 Juli 1954. Lulusan Madinah Al-Munawwarah University ini mengabdikan diri dalam dunia pendidikan, dengan menjadi dosen tetap di LIPIA, serta menjadi pengajar di beberapa universitas terkemuka seperti diantaranya : Program Pascasarjana UIN. Keinginan kuatnya untuk memperkenalkan ketinggian syariah Islam diwujudkan dengan pendirian Syariah Consulting Center, dimana beliaulah yang mula-mula memiliki ide dan menggagas konsep pendiriannya. Atas kepakaran dan kompetensi beliau dalam perkara syariah Islam, bapak lima anak ini didapuk untuk menjadi pengawas pada beberapa bank dan asuransi syari'ah.
Dalam kesempatan ramadhan ketika pahala sedekah dilipatgandakan oleh Allah SWT, reporter cybermq, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai beliau disela-sela kesibukannya mengajar di beberapa tempat. Berikut kutipan wawancaranya :
Bagaimana menanamkan sikap empati terhadap saudara kita yang kurang mampu ?
Saya kira untuk menanamkan empati itu tidak cukup dengan teori, namun harus dengan praktik langsung mengunjungi mereka-mereka yang kesusahan. Beberapa persoalan tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata, tapi harus dilihat dengan mata kepala dan diselesaikan dengan tangan kita sendiri. Oleh karena itu, perlu untuk membawa mereka-mereka yang punya kelebihan dari segi harta untuk terjun langsung ke daerah-daerah minus atau menyaksikan tayangan dokumenter seputar kondisi saudara kita yang tidak mampu, agar nanti muncul sikap empati. Upaya tersebut akan membantu kita untuk lebih memerhatikan lagi saudara-saudara kita yang kurang mampu. Pada umumnya upaya yang biasa diperbuat banyak kalangan sering berupa sebuah renungan bersama. Namun bagi saya, cara yang lebih efektif adalah mengunjungi langsung daerah-daerah tertinggal yang perlu dibantu.
Selama bulan ramadhan Rasulullah SAW dikenal sangat dermawan, bagaimana agar kita bisa mencontoh kedermawanan beliau ?
Saya melihat pada bulan ini orang lebih tergugah untuk melakukan kebaikan. Sering saya temukan, orang yang malas membaca Qur'an berubah menjadi rajin. Bulan ini bulan saling berbagi, serta saling tolong menolong. Pada dasarnya sifat tersebut ada pada setiap orang. Supaya kita bisa mencontoh beliau, bagi kita yang diberikan kelebihan maka lakukan sesuatu yang bisa kita perbuat sesuai kemampuan kita. Contohnya, jika kita mempunyai uang 1000 rupiah, sisihkanlah 500 rupiah lantas disedekahkan. Semua orang bisa berperan menjadi dermawan dengan kemampuan yang kita miliki. Yakini kita mempunyai kelebihan, sehingga kita bisa melakukan kebaikan sekecil apapun, untuk menjadi contoh bagi yang lainnya.
Adanya lembaga sosial sudah efektifkah ?
Lembaga yang adapun tetap masih kurang. Belum lagi permasalahan umat masih banyak. Harapannya, lembaga serupa bisa lebih banyak, sehingga mampu meminimalisir permasalahan umat. Bagi saya lembaga apapun bisa bermanfaat selama memegang teguh kejujuran dan amanah. Sifat itu yang saya rasa belum kentara pada lembaga-lembaga sosial yang ada di Indonesia.
Makna menahan hawa nafsu ?
Shaum merupakan bekal kita untuk menghadapi 11 bulan berikutnya. Selama ramadhan kita dilatih untuk melawan banyak godaan, karena bulan lain pun akan ada banyak godaan. Ketika sudah terlatih, maka kitalah yang akan menguasai hawa nafsu bukan kita yang dikuasai. Latihan ini cukup panjang, sehinggga kita butuh latihan yang terus menerus. Dampaknya kita menguasai hati kita, bukan kita dikuasai oleh hati. Inti dari menahan hawa nafsu adalah bagaimana seseorang itu pasrah menyerahkan diri dengan seluruh apa yang diperintahkan Allah SWT.
Ramadhan sebagai bulan Muwasat (kepekaan), bagaimana pendapat ustadz ?
Meski orang tidak banyak belajarpun, Insya Allah, jiwa kepedulian itu pasti ada. Contohnya, ketika kita berbuka puasa dengan sepiring nasi, saat akan makan datang seseorang yang juga sedang puasa, pasti dia berbagi. Kalau perlu dia makan sedikit, yang lainnya diberikannya kepada teman kita yang susah. Jadi, fitrah yang ada pada dirinya membawa dia memiliki sifat muwasat (kepekaan-red). Semoga kepekaan hati itu makin terasah pada bulan-bulan yang lainnya.
Cara menjaga kesinambungan amalan ramadhan untuk dibawa kepada bulan lain ?
Kita harus menjaga dan melanggengkan prestasi amalan yang telah diperoleh selama bulan ramadhan ini. Bagaimana kita mempertahankan prestasi tersebut pada bulan-bulan berikutnya ? Jawabnya, dengan belajar sungguh-sungguh. Meski tidak semaksimal di bulan ramadhan, kita harus kontinyu menjalankan ibadah fardhu dan sunnah secara istiqamah. Jika hal tersebut tidak dipertahankan, bisa-bisa kita malah berada dalam kondisi penurunan, bahkan bisa turun sampai ke tingkat yang paling rendah. Program harian juga harus ada untuk dibawa kepada bulan berikutnya.(red/fqzyn/aea)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home