Uzie's Blog

Sunday, October 30, 2005

Hidayat Nurwahid : Idul Fitri Sadarkan Manusia Kembali Pada Fitrahnya

"Dengan Idul Fitri oleh Allah disadarkan untuk kembali pada fitrahnya. Artinya mengkoreksi diri untuk bisa menghadirkan perilaku-perilaku yang sesuai fitrah pada satu tahun yang akan datang. Dengan cara itu umat Islam akan selalu berkaca sepanjang tahun apakah perjalanan kehidupannya sesuai dengan fitrahnya. "

Dr HM Hidayat Nur Wahid, MA, lahir Klaten, 8 April 1960. Beliau seorang politisi, uztad sekaligus cendekiawan muslim yang mempunyai gaya tersendiri dengan mengedepankan moral dan dakwah. Pribadinya yang santun menjadikan mantan Presiden Partai Keadilan (PK) memikul amanah yang harus dipertangungjawabkan dengan menjadi Ketua MPR Periode 2004-2009. Terjunnya beliau ke dunia politik tidak semata-mata ingin memperkaya diri serta menambah ketenaran. Dirinya berharap dengan kehadiran partai dakwah yang sempat dipimpinnya bisa menjadi solusi bagi permasalahan bangsa.

Tidak lantas sampai disitu karir yang diraihnya, hadirnya politisi yang agamis ini memberi warna tersendiri dunia perpolitikan kita yang terkesan dipandang sebelah mata. Pendidikan terakhir beliau pada Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Medina, Arab Saudi, Fakultas Dakwah & Ushuludiin, Jurusan Aqidah tahun 1992.

Kesempatan Idul fitri merupakan sarana kembali kepada fitrah kesempatan terbaik terbaik bagi umat islam. Pasalnya, dengan Idul fitri umat harus mengetahui bahwa ada barometer kehidupan yang selalau melekat menyertai mereka yaitu fitrah. Umat islam harus kembali ke dalam fitrahnya, sejauh apapun dia pergi, sejauh mana dia melangkah. Dengan cara itu umat Islam akan selalu berkaca sepanjang tahun apakah perjalanan kehidupannya sesuai dengan fitrahnya. Terkait dengan hal itu, reporter cybermq, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai beliau Disela-sela kesibukannya mengemban amanah di Lembaga Tertinggi Negara. Berikut kutipan wawancaranya :

Hikmah Idul Fitri bagi kehidupan ?

Idul fitri merupakan peristiwa besar bagi umat Islam dan disunahkan untuk merayakannya. Di balik itu ada hikmah besar untuk kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, serta bagi umat islam. Salah satu hikmahnya adalah agar umat selalu mengetahui bahwa ada barometer kehidupan yang selalau melekat menyertai mereka yaitu fitrah. Umat islam harus kembali ke dalam fitrahnya, sejauh apapun dia pergi, sejauh mana dia melangkah. Dengan cara itu umat Islam akan selalu berkaca sepanjang tahun apakah perjalanan kehidupannya sesuai dengan fitrahnya yaitu hamba Allah yang memakmurkan kehidupan di bumi dan kemudian selalu bisa menghadirkan proses khilafah yaitu sebuah regenerasi, bukan menghadirkan anarki. Jika dia sudah berjalan dalam rel sebagai hamba Allah yang memakmurkan kehidupan, berarti perjalanan dia sesuai dengan fitrah dan patut bersyukur kepada Allah. Tapi jika ternyata sudah melenceng tidak lagi memakmurkan kehidupan, malah menghadirkan kedzaliman, tidak lagi peduli malah menghadirkan prilaku arogan, maka dia dengan Idul Fitri ini oleh Allah disadarkan untuk kembali pada fitrahnya. Artinya untuk mengkoreksi diri untuk bisa menghadirkan perilaku-perilaku yang sesuai fitrah pada satu tahun yang akan datang. Itu salah satu dari banyak hikmah yang bisa diambil dari Idul Fitri.

Idul Fitri sebagai momen silaturahim, lantas yang dicontohlan seperti apa ?

Idul fitri dalam konteks indonesia kita mengenal ada tradisi mudik, ada halal bihalal. Itu memang satu momentum besar untuk merekatkan kembali ukhuwah islamiyah, termasuk silaturahim merupakan sunah rasulullah yang sangat relevan dengan kondisi indonesia sekarang ini seperti masalah BBM timbul ketegangan-ketegangan di lapangan, banyak krisis. Itu semuanya memerlukan obat atau solusi. Salah satu obat penawar yang bagus adalah hadirnya silaturahim, saat pemerintah bisa bersilaturahim dengan rakyatnya, para pemimpin bisa bersilaturahim dengan yang dipimpin, saat merek bisa saling menyampaikan ucapan selamat, menyampaikan kepedulian dengan saling membantu, saat mereka bisa saling meminta maaf dan memberikan maaf. Itu adalah satu langkah yang sangat penting dan bermanfaat bagi kondisi berbangsa dan bernegara kita yang tengah dirundung susah semacam ini. Hal Itu bisa hadir dengan suka cita tanpa muncul beban ketika kita hidup dalam suasana Idul Fitri seperti yang akan segera kita rasakan beberapa hari mendatang.

Makna kembali kepada fitrah ?

Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada jati diri sebagai hamba Allah yang muslim, hamba Allah yang memakmurkan kehidupan, hamba Allah yang tidak egois dan tidak arogan. Jadi, jika seorang muslim selama sebulan berpuasa, shalat tarawih, baca Al-Quran, shalat di masjid. Namun, setelah selesai bulan puasa kita tidak shalat, memusuhi masjid, memusuhi Al-Quran. Ya.... dia justru melenceng dari fitrahnya, puasanya tidak berarti bagi dirinya. Sebaliknya jika selama bulan ramadhan kita sudah soleh secara pribadi, soleh secara sosial, memakmurkan masjid, bersilaturahim dengan banyak orang, maka dia berada dalam kondisi yang sesuai dengan fitrah. Jika dia beridul fitri, maka dia akan kembali kepada fitrahnya dengan menguatkan komitmen-komitmen itu sehingga setelah bulan ramadhan pun akan semakin cinta dengan masjid, cinta dengan Al-Quran, akan tetap bersilaturahim. Hal inilah yang akan menjadikan Islam sebagai sumber keselamatan bagi kehidupan.

Pelajaran dari menahan hawa nafsu ?

Salahsatu diantaranya yaitu membiasakan diri untuk mengetahui bahwa dia hanyalah manusia biasa, bukan tuhan yang bisa mengumbar hawa nafsunya. Dia bukanlah sesuatu yang kemudian “ bisa berlaku takabur” dengan memperkirakan bahwa dirinya adalah faktor segala-galanya. Dengan mengekang hawa nafsu dia tahu bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang harus selalu diperbaiki. Jadi, sebenar apapun dia akan ada kemungkinan tergoda oleh setan melalui sifat uzub, riya, takabur dan sifat tercela lainnya. Setan akan menggoda orang sesuai dengan kualitas dirinya. Ustadz akan diganggu oleh setan yang sekelas dengan ustadz, pegawai atau pedagang akan diganggu dengan setan yang sejens itu, seorang yang sangat tersohor akan diganggu dengan logika ketersohorannya. Jadi dengan mengekang hawa nafsu selama ramadhan hikmahnya adalah biasanya orang akan mengerti ada sesuatu yang memang harus dikalahkan dalam dirinya yaitu hawa nafsu. Setiap orang menjadi tahu bahwa ternyata mengekang hawa nafsu bisa dilakukan dengan berpuasa. Mudah-mudahan ada pengalaman yang secara langsung yang dapat dirasakan oleh setiap muslim dengan berpuasa di bulan ramadhan.

Orang yang gagal dalam ramadhan ?

Orang yang gagal dalam ramadhan adalah orang yang selama ramadhan rajin beribadah, melaksanakan perintah-perintah Allah. Namun, setelah bulan ramadhan justru malah tidak melaksanakan perintah Allah. Tidak lagi shalat, tidak lagi bersilaturahim, tidak cinta masjid, tidak cinta Al-Quran. Itulah golongan orang mendapat kegagalan dalam ramadhan. Selain itu jika setelah ramadhan justru semakin tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, semakin arogan, semakin takabur, semakin sombong, semakin berlaku semena-mena, hal itu pun merupakan tanda ramadhannya gagal. Ramadhan juga salah satu cara efektif yang Allah hadirkan untuk mengokohkan ukhuwah islamiyah. Nah...kalau setelah ramadhan lantas memutuskan silaturahim, merendahkan pada orang lain dengan sebelah mata, itu tandanya puasanya gagal. Jadi, salah satu keberhasilan puasa adalah keberlanjutan amal shaleh selama bulan ramadhan, bahkan meningkatnya amal shaleh setelah bulan ramadhan. (red/fzyqn)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Free Counters
007counters.com

Wilujeng Sumping di Blog Mang Uzie

Free Shoutbox Technology Pioneer