Uzie's Blog

Friday, October 21, 2005

Abu Rabbani : “ Jadikan Al-Quran Pembimbing Kita”

Ustadz Abu Rabbani dilahirkan di Bandung, 24 Agustus 1972. Bapak lima anak ini dalam aktifitasnya menjadi pengisi di radio dalam acara belajar tahsin Lulusan STAI At-Taqwa dan Ma'had Al-Hikmah di LTQ Al-Hikmah Jakarta ini dikenal sangat ramah dan terbuka kepada siapapun yang ingin belajar Al-Quran dengan baik dan benar. Selain itu, aktifitas ustadz yang terlihat awet muda ini kerap mengisi beberapa majelis ta'lim ibu-ibu.

Berkaitan dengan tibanya Nuzulul Quran yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, reporter cybermq, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai Direktur Lembaga Tahfidz Al-Quran Jendela Hati (LTQ-JH) disela-sela kesibukannya. Berikut petikan wawancaranya :

Apa Makna Nuzulul Quran ?

Makna nuzulul quran, kita harus memahami dulu bahwa Al-Quran diturunkan oleh Allah sebagai bentuk kasih sayang, rahman Allah SWT kepada manusia, sebagaimana yang allah sebutkan dalam surat Ar-Rahman. Salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap manusia maka Allah menurunkan Al-Quran. Sebelum Allah menyebutkan kenikmatan-kenikmatan lain seperti nikmat sehat, nikmat terciptanya alam semesta, matahari dan sebagainya. Pertama kali Allah sebutkan adalah kenikmatan berupa Allah turunkan dari Al-Quran.

Oleh karena itu barangkali nuzulul quran harus dipahami oleh kita sebagai sebuah bentuk keakraban kita dengan Al-Quran yang telah Allah turunkan kepada kita supaya kita lebih dekat dengan yang Maha Rahman, lebih dekat lagi dengan Allah sebagai pencipta kita.

Namun Allah tidak semata-mata menurunkan Al-Quran kecuali allah menginginkan sebagai petunjuk bagi manusia. Itulah bentuk rahman Allah kepada manusia, jika tanpa Al-Quran akan menjadi sesat. Oleh kerana itu salah satu bentuk syukur kita atas nuzulul quran bagaimana menempatkan Al-Quran sesuai dengan esensi Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT dijadikan sebagai referensi dalam membina seluruh potensi yang diberikan Allah kepada kita, baik potensi jasad, potensi akal, potensi qalbu atau potensi jiwa kita. Ini barangkali salah satu makna diturunkannya Al-Quran agar manusia bisa berbahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Cara bergaul dengan Al-Quran ?

Pertama, tentunya kita mengimaninya terlebih dahulu kemudian tanpa mengingkari seayat pun yang pernah terjadi pada masa Abu Bakar Asshidiq, pernah memerangi satu kaum yang tidak mau berzakat. Menurutnya, mereka tidak mau berzakat bukan enggan untuk berzakat tapi mereka telah mengingkari ayat Al-Quran. Kemudian Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita bahwa bentuk interaksi kita dengan Al-Quran dengan membacanya, karena proses pembelajaran awalnya dari membaca. Tidak cukup sampai disitu, setelah membacanya kita kaji untuk memahaminya, kemudian kita tadabbur yaitu bagaiman kita mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap ayat yang kita kaji. Berikutnya adalah bagaimana kita mengamalkannya setelah kita membaca, mengkaji, serta mentadabburi Al-Quran.



Al-Quran sebagai solusi kehidupan ?

Kalau kita kaji Al-Quran akan memberi petunjuk dan solusi dari permasalahan dalam diri manusia. Allah berfirman al quranu tibyaanu li kulli syaiin yaitu Q merupakan penjelas segala sesuatu. Bimbingan Al-Quran bukan saja berkaitan dengan masalah-masalah hati, tetapi ketika Al-Quran dikaji kita akan mendapatkan Al-Quran membimbing kita bagaimana memiliki potensi jasad yang Allah berikan kepada kita.

Banyak ayat-ayat yang mengarahkan kepada kita bagaimana kita memiliki jasad yang baik. Misalkan dalam ayat Al-Quran kita diperintahkan untuk makan makanan yang halal lagi yang thayib (baik-red). Jika kita pahami oleh ahli gizi hal tersebut yang memenuhi kualifikasi 4 sehat 5 sempurna.

Al-Quran juga memberdayakan potensi akal. Misalnya banyak ayat Al-Quran yang diawali dengan afala yandzuruun yang artinya apakah kamu tidak memperhatikan, apakah kalian tidak melihat, serta banyak juga ayat yang diakhiri dengan kalimat agar kalian berfikir. Bahkan, salah satu kemukjizatan Al-Quran yang dipahami oleh para ulama adalah kemukjizatan dari sisi ilmi maksudnya bahwa betapa banyak ayat dalam Al-Quran yang menjadi isyarat-isyarat ilmiah yang dibuktikan oleh para ilmuwan di abad 19 dan abad ke-20 ini. Misalnya, dalam surat Al-Anbiya menyebutkan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui langit dan bumi dulunya merupakan sesuatu yang padu. Barangkali pada saat itu tidak dipahami ayat itu.

Ternyata setelah dibuktikan oleh para ilmuwan ternyata alam semesta berawal dari satu kesatuan. Menurut Edwin Hubble 15 milyar tahun lalu terjadi ledakan. Ini merupakan petunjuk bimbingan Allah pada akal. Serta masih banyak Al-Quran sebagai petunjuk kepada Qalbu kita, ruhiah kita, serta bimbingan terhadap jiwa kita.

Bagaimana mensikapi peringatan Nuzulul Quran ?

Tentunya bukan sekedar seremonial lazimnya di masyarakat ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan hari-hari besar Islam biasanya yang muncul hanya seremonial saja. Yang sangat mengkhawatirkan momen-momen tersebut menjadi aktifitas yang malah bertentangan dengan Al-Quran seperti Khurafat. Sikap yang paling baik ketika kita memperingati nuzulul quran, seharusnya kita lebih memperhatikan Al-Quran dengan kembali bersikap secara benar terhadap Al-Quran dengan menjadikan Al-Quran sebagai pembimbing kita, bukan sekedar diagungkan tapi nilai-nilainya kita lupakan. Cara yang paling tepat adalah menjadikan momen untuk kembali kepada Al-Quran, kita baca Al-Quran, kita kaji bersama, kemudian kita amalkan Al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana cara Allah menjaga Al-Quran ?

Dalam Al-Quran sesungguhnya kami kami dan kami kata Allah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya kami yang akan memeliharanya. Jadi, umat Islam tidak pernah khawatir tentang berubahnya Al-Quran, karena penjagaan Allah sendiri yang menjaminkannya. Allah menjaga Al-Quran dengan dua hal. Pertama, Allah menjaga Al-Quran di dalam dada-dada orang beriman. Kemudian dituliskan dalam suthuur (kitab-red), sehingga penulisan Quran dikatakan benar sebelum sesuai dengan hafalan yang dimiliki oleh seorang hafidz. Seorang ketika menghafalkan Al-Quran belum dikatakan sesuai dengan apa yang telah diturunkan kepada Rasulullah, jika belum sesuai yang dituliskan oleh para sahabat.

Dengan cara demikian Allah menjaga Al-Quran, bahkan penjagaan Al-Quran bukan sekedar dari sisi kalimat atau adanya penambahan dan pengurangan. Allah SWT memelihara sampai ke tingkat yang paling kecil yaitu teknik membaca Al-Quran. Oleh karena itu para ulama menekankan wajibnya membaca dan mempelajari Al-Quran secara langsung antara guru yang memiliki kapabilitas yang baik dengan Al-Quran diakuii tentang keshasihan Al-Quran dan murid yang akan belajar. (red/fzyqn)




Abu Rabbani
STAI At-Taqwa Bekasi. Ma'had Al-Hikmah di LTQ Al-Hikmah Jakarta.
Bandung, 24 Agustus 1972
Putra 4 orang
akitifitas : Direktur LTQ Jendela Hati, mengisi siaran, DPD PKS, majelis Ta'lim Ibu-ibu

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Free Counters
007counters.com

Wilujeng Sumping di Blog Mang Uzie

Free Shoutbox Technology Pioneer