Interview Uzie
Syaiful Islam : " Kita Pun Harus Berkontribusi "
Ketika mengisi acara aksi solidaritas untuk Aceh yang digelar di Masjid Pusat Dakwah Islam Bandung , reporter Cyber MQ, Fiqi Fauzie, berkesempatan mewawancarai Ustadz Saiful Islam L.c., seorang ulama yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD Propinsi Jawa Barat dari Fraksi Keadilan Sejahtera (FKS). Beliau duduk di Komisi E, yang dalam rapat-rapatnya diberi kewenangan untuk membahas bidang keagamaan, kependidikan, kesejahteraan, dan kesehatan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Ust. Saiful, begitu beliau biasa dipanggil, mengungkapkan beberapa hikmah yang bisa diambil dari peristiwa di Aceh. Beliau sempat pula memberikan sedikit pendapat tentang peranan media pasca tsunami. Berikut petikan wawancaranya
Hikmah apa yang bisa diambil dari peritiwa gempa dan tsunami di Aceh & Sumatera Utara ini, Ustadz ?
Pertama, hendaklah setiap manusia merendahkan diri dihadapan kekuasaan Allah SWT. Ternyata tidak ada artinya dihadapan Allah semua manusia ini. Jika Allah menghendaki kebinasaan manusia, gampang saja. Terlepas apakah mereka itu ahli maksiat atau ahli ibadah. Kita harus sangat-sangat faham, bahwa ketaatan manusia hanya untuk manusia, tidak menguntungkan sedikitpun untuk Allah. Demikian juga kemaksiatan manusia, hanya akan merugikan manusianya lagi. Peristiwa ini kita jadikan pelajaran untuk lebih tunduk dan ingat terhadap kematian. Hikmah yang kedua, mudah-mudahan dengan bencana tsunami ini, akan terwujud wajah Aceh yang baru, sesuai dengan cita-cita mereka ingin mewujudkan syariat islam. Propinsi merekapun sampai diberi nama Darussalam. Boleh jadi ini karena kasih sayang Allah kepada mereka. Sehingga Allah ingin mewujudkan cita-cita mereka, diawali dengan pembersihan dahulu. Siapa tahu setelah ini tampil generasi baru, yang lebih mencintai Allah, lebih mencintai sesama manusia. Tidak ada kesombongan yang tampil memperebutkan kekuasaan.
Bagaimana sikap para anggota dewan dalam menyikapi bencana tsunami tersebut ?
Anggota dewan yang kebetulan mengemban tugas seorang da’i, berupaya untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat, ikhwal kejadian ini. Anggota dewan sebagai bagian dari pemerintahan, ikut membantu melakukan penyusunan dana rescue dari anggaran daerah. Sebagai seorang muslim, kitapun masing-masing harus berkontribusi.
Apakah karena masalah geografis lokasi yang terkena tsunami itu porak poranda ?
Kita dituntut untuk memanfaatkan akal seluas-luasnya, tapi akal kita hanya berfungsi untuk mengkaji bukan merubah ketentuan Allah. Walaupun sudah digali sekian banyak ilmu, bila Allah menghendaki untuk membuktikan betapa lemahnya manusia, maka terjadilan seperti ini. Tidak ada yang tahu pasti akan terjadi peristiwa ini, meskipun satu hari sebelumnya. Gerhana, musim hujan, biasanya kan sudah ada yang memprediksi. Tapi tsunami ini sungguh-sungguh tidak ada seorang ahlipun yang tahu.
Antisipasi apa yang paling utama dilakukan, kalau-kalau terjadi bencana semacam ini lagi ?
Antisipasi yang paling utama, tentu saja dengan taqarub kepada Allah. Kalau bencana itu terjadi lagi dan kita mati dalam keadaan taqarub, maka itu bukan celaka. Bencana seperti ini tidak bisa diantisipasi, kecuali dengan persiapan diri masing-masing, agar tidak mati dalam keadaan maksiat dan lalai kepada Allah. Jika mati dalam keadaan beriman, itu bukan celaka, tetapi bukti kasih sayang Allah terhadap kita.
Kita memang dipotong 50 persen dari gaji yang diterima bulan Januari. PKS juga yang paling awal masuk ke Aceh. Hari pertama terjadinya bencana kita sudah berada di sana.
Bagaimana peran media yang diharapkan Ustadz pasca bencana ini ?
Media memegang peranan penting untuk meluruskan pemahaman masyarakat. Maka, diharapkan melalui media, masyarakat bisa menyikapi semua peristiwa tidak dengan pesimistis. Media bisa membuat masyarakat tetap optimis, yaitu kembali bangkit dengan niat semata-mata mencari Ridho Allah. Kalau hasilnya belum terlihat di dunia, hasilnya itu akan terlihat di akhirat nanti. Kalau belum dinikmati oleh generasi sekarang, akan dinikmati oleh generasi yang akan datang. Media, masyarakat, dan anggota dewan tentunya berkewajiban untuk bahu-membahu dalam membangun kembali Aceh, membangun negeri kita ini.(red/aburashif)
Abu Syauqi : Tentara Kita Telah Bekerja Keras
Rumah Zakat Indonesia adalah salah satu lembaga yang memiliki andil penting dalam penanganan daerah korban Tsunami, baik di Nanggroe Aceh Darussalam maupun sebagian Sumatera Utara. Karena keterlibatan mereka yang aktif sejak awal, reporter cyberMQ, Fiqi Fauzi, mencoba menghubungi pucuk pimpinan Rumah Zakat Indonesia, Abu Syauqi Mujahid Lc, untuk mendapatkan informasi yang akurat berkenaan dengan penanganan korban bencana Tsunami sejak awal hingga saat ini, juga informasi mengenai sejauh mana keterlibatan kaum muslimin dari negara lain.
Setelah rapat rutin dengan jajaran pengurus Rumah Zakat Indonesia, Ustadz Abu Syauqi, demikian pria bernama asli Deni Trisnahadi ini biasa dipanggil, mengemukakan berbagai fakta yang ia temui di lapangan. Berikut petikannya :
Bagaimana peran umat muslim timur tengah atau negara islam lainnya terhadap bencana Tsunami, sejauh pengetahuan ustadz?
Umat islam lebih dahulu datang ke lokasi kejadian. Tapi media tidak memberitakan ihwal keterlibatan negara-negara muslim yang sudah berada di Aceh, dua hari pasca terjadinya musibah tsunami. Posko kuwait sudah berdiri dua hari pasca tunami. Rakyat Saudi Arabia mengumpulkan uang sebesar 120 juta dollar Amerika, pemerintahnyapun menghibahkan 30 juta dollar Amerika. Bisa kita lihat, masyarakatnya lebih banyak mengumpulkan uang daripada pemerintahnya. Tetapi, rakyatnya memang tidak bisa langsung menyalurkan bantuannya kepada masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan minimnya ekspos oleh media. Padahal, jauh sebelum tentara Amerika, Australia, para tentara dan relawan malaysia sudah lebih dulu berada disana. Bahkan, sejak awal kejadian.
Sebetulnya tentara Amerika dan Australia itu aktivitasnya hanya antara pelabuhan dan helikoter. Mereka tidak langsung berurusan, menyentuh mayat-mayat korban Tsunami. Saya lihat malah tentara-tentara Diraja Malaysialah yang turun langsung mengurusi mayat-mayat. Mereka bersentuhan langsung dengan mayat-mayat korban. Ajaibnya, justru kejadian seperti ini yang miskin diekspos.
Fakta apa yang miskin dari ekspos media di Indonesia ?
Saya kira media di Indonesia berlebihan mengekspos keterlibatan Amerika dan Australia. Yang kerja sangat keras itu TNI, sebetulnya. TNI betul-betul terjun dengan para relawan. Mengangkut mayat, membenahi infrastruktur yang hancur, dan mengelola kendala yang menghalangi proses penanganan pasca-bencana. Tidak seperti tentara Amerika dan Australia yang justru tidak terjun langsung ke lapangan. Ada kesan seolah-olah peranan TNI, peranan negara Islam lainnya tidak ada. Yang diekspos malah kegiatan tentara Australia menyuling air, atau prajurit Amerika membagi-bagikan makanan kaleng.
Negara-negara islam yang sejak awal sudah berada di lokasi kejadian ?
Kuwait, Arab Saudi, dan banyak negara muslim lainnya yang menolak untuk diekspos. Jadi tidak bisa saya sebutkan.
Seperti apa bentuk bantuan pasca bencana yang diupayakan oleh negara-negara Islam tersebut ?
Sederhananya seperti : proses penguburan mayat-mayat korban, pembersihan sampah, dan penanganan infrastruktur yang hancur. Menurut saya, yang sangat urgen adalah pemulihan mentalitas para korban, lokasi pengungsi, pendidikan dan kesehatan. Tentu saja, jangka panjangnya adalah recovery ekonomi. Dan kita butuh solidaritas sesama muslim dimanapun, untuk mengelola semua permasalahan pasca bencana ini.
Apa wujud solidaritas ukhuwwah yang bisa Ustadz simak dari kegiatan penanganan pasca bencana tersebut ?
Luar biasa sekali. Yang dekat saja : Malaysia. Konglomerat Malaysia berbondong-bondong menyalurkan bantuan materiil maupun moril melalui lembaga kami. Padahal, selama ini, kita tahunya cuma aktor-aktor Hollywood sama artis-artis pop luar saja yang melakukan penggalangan dana. Sama sekali kita tidak tahu, tidak mau tahu, atau mengesampingkan peran saudara-saudara se-ukhuwwah dari negeri tetangga, yang telah ikut menyalurkan bantuannya.
Kesan mereka seperti apa, ustadz ?
Saya saksikan mereka begitu bersemangat membantu. Mereka senang bisa membantu saudaranya. Bahkan, sampai saat ini, saudara-saudara kita dari negara-negara muslim lain itu masih berada di lokasi kejadian untuk membantu masyarakat pasca bencana.
Oh ya, Ustadz. Kita dengar sempat ada isyu yang berkisar soal penculikan korban. Apakah kejadian penculikan itu memang ada ?
Memang ada. Jauh hari sebelum isyu ini mencuat, Republika pun dalam reportasenya sudah membahas tentang hal ini. (red/aea)
Hussein Umar : Berpeganglah Kepada Janji Allah
Ditengah-tengah usaha pendangkalan akidah yang dilakukan oleh sosok-sosok bertopeng Islami, di jaman ketika syari'at Islam yang seharusnya kaffah dilaksanakan malah menjadi bahan pertanyaan, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) masih terus berupaya mengepakkan sayap-sayap dakwahnya. Pada usianya yang menginjak 38 tahun pada 27 Februari ini, DDII terus bergiat dan bekerja keras, membela kepentingan umat Islam dengan berani dan istiqamah.
Sejak dipimpin oleh almarhum Mohammad Natsir, DDII terus aktif membina kader-kader dakwah, yang dikenal militan dan sangat disegani oleh musuh-musuh Islam : orang-orang yang tidak menyukai syari'at Islam dilaksanakan secara kaffah, dan tegak di bumi Indonesia ini. Tak jarang DDII mesti berhadapan dengan pihak penguasa, dikala memperjuangkan kepentingan umat tersebut. Tentu saja, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah SAW sendiri, bahwasanya jalan dakwah itu pasti dipenuhi oleh marabahaya, tak jarang DDII harus berhadapan dengan penguasa atau pihak-pihak kuat yang kukuh menghalangi maksud baiknya. Untuk itu, DDII harus dinakhodai seseorang yang memiliki karakter kuat. Dan untuk saat ini, sosok itu terwakili oleh KH. Hussein Umar, Sekretaris Jenderal DDII.
Untuk mengetahui lebih lanjut kiprah DDII di usia ke-38 ini, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarainya disela-sela rapat rutin yang bertempat di Kantor DDII, bilangan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Berikut ini petikan wawancaranya :
Kegiatan apa yang akan dilaksanakan untuk memperingati hari jadi DDII yang ke-38 ?
Kita masih konsentrasi untuk Aceh. Ada tim yang akan berangkat ke sana untuk kelanjutan pembinaan dakwah. Itulah masalah yang paling kita seriusi untuk saat ini.
Berapa banyak yang sudah diturunkan disana ?
Sekitar 80 orang yang bolak balik, dan sampai sekarang masih ada disana. Diperkirakan sekitar 7 gelombang sudah berangkat ke Nanggroe selama kejadian ini. Yang kita lakukan antara lain bantuan untuk anak yatim, kegiatan pembinaan umat yang dilakukan oleh satu tim. Untuk Kesehatan, kita juga dapat bantuan dari muslim di Hongaria. Kita masih mencari rumah sakit yang tepat untuk menyalurkannya. Kemudian ada delegasi dari mesir yang akan datang hari jumat dan akan berangkat ke Aceh hari sabtunya. Dari organisasi Konferensi Islam berpartisipasi dengan memberikan bantuan alat sekolah mulai tas yag didalamnya ada sajadah, Al-Quran, alat tulis, pakaian,dan buku Iqro. Satu paket sudah dikirim dan yang lain akan menyusul.
Kita ingin bantuan yang kami berikan bisa bermanfaat. Untuk mendata tidak semudah yang kita duga. Karena sasaran kita di Meulaboh, Nagan Raya, Sibelu. Masih banyak daerah yang belum disentuh selama ini. Hal itu kita ketahui setelah kita mengunjungi kesana. Kami mengetahui bahwa bantuan itu numpuk di Aceh Besar, sedangkan yang membutuhkan banyak dari daerah lain. Program kami di Aceh antara lain memperbaiki masjid yang rusak Ada, membina imam masjid karena banyak imam masjid yang wafat.
Kita temukan di lapangan ada kelompok LSM Nasrani yang melangkah cukup jauh, misalnya membagikan makanan dalam pembungkus dengan semangat misionaris. Lembaga tersebut berasal dari Korea. Hal ini akan kami laporkan kepada pemerintah dan kami mempunyai bukti konkret yang menguatkan adanya hal tersebut. Di lapangan juga ditemukan Dosen Universitas Syiah Kuala. Seorang perempuan berusia 60 tahun, orang Australia yang fasih bahasa Aceh. Dia juga memberikan pembinaan untuk anak-anak, seperti menghibur anak-anak dengan mainan balon. Balon itu muncul jadi bunga, tiba-tiba muncul salib. Dan ketika muncul salib itu, perempuan tersebut memberikan penjelasan apa itu salib ? apa itu agama kristen ? Itu yang terjadi di Aceh. Mereka tampil begitu agresif dengan mengabaikan etika yang berlaku.
Temuan ini akan kami sampaikan ke Menteri Agama dengan data-data yang kuat. Dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Prof. Dr. Danil Juned menceritakan bahwa kami pernah mengalami tiga peristiwa yang menyebabkan anak-anak Aceh jadi korban dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pertama, ketika G 30 S/PKI, kita tidak tahu anak-anak aceh dibawa keluar menuju kemana. Kedua, ketika DOM, berapa anak aceh yang jadi korban kemudian dibawa oleh kalangan tertentu. Ketiga, gempa tsunami ini. Berapa banyak anak Aceh yang dibawa keluar Aceh. Kita tidak bisa meyakinkan bahwa tidak ada, tetapi suara itu cukup santer. Pada kesempatan lain Pesawat boeing milik worldhelp mendarat di Bandara Blang Bintang. Siapa yang menjamin dalam situasi panik, tidak ada anak-anak yang dibawa. Karena anak-anak beranggapan siapapun yang menolong dia, meski tidak tahu apa-apa, yang penting diselamatkan. Saya rasa mereka sangat jeli melihat peluang dalam situasi seperti itu. Istilahnya, mereka menangguk di air keruh dalam suasana yang seperti ini. Washington Post mengungkapkan, bahwa dulu aceh tertutup dgn Syariat Islam. Dengan kejadian gempa menjadi terbuka untuk segala bantuan, sehingga mereka bisa leluasa memasuki aceh. Hal tersebut dikuatkan oleh republika yang mengulas lebih rinci tentang ini.
Dua hal dalam buku sejarah gereja yang ditulis oleh Dr. Bierhoff, jelas sekali bagaimana beliau memandang indonesia. Dalam buku tersebut Dr. Bierhoff melihat Indonesia menjadi daerah yang sangat subur untuk menyemaikan benih-benih kristiani, tetapi kita jangan terlalu segera cepat bersuka cita karena kita menghadapi orang-orang islam yang merupakan benteng agama yang tidak mudah ditaklukan oleh pahlawan-pahlawan kristus. Oleh karena itu zending-zending dan gereja-gereja muda di negeri ini (indonesia) harus bekerja keras untuk menaklukkan mereka. Begitu pula Paus, Paus pernah mengeluarkan Fatwa Gerejani dengan sebutan Demtori Misio dalam istilah latin disebut Renemtori Misio. Disitu ditegaskan bahwa tugas utama umat Katolik adalah menyampaikan injil ke seluruh penjuru dunia. Beliau pun menghimbau negeri-negeri muslim yang memberlakukan Undang-undang tidak boleh berpindah agama agar segera mencabut undang-undang itu. Jika kita lihat secara literatur, beralasan kita khawatir dan curiga
Menyimak kondisi itu, apa fokus program DDII saat ini ?
Kita tetap mengawal aqidah umat. Menyadarkan mereka tentang persoalan yang sedang dihadapi. Dari sisi ini, umpamanya. Ketika teman-teman naik di satu kapal mereka menemukan buku-buku "jalan menuju allah." Itu buku-buku kristen. Sekarang juga banyak beredar buku-buku dengan menggunakan istilah-istilah yang khas islam. Ada yang judulnya syahadat, jihad, shalat Rabbaniyah, dan masih banyak lagi.
Di usia DDII yang ke 38 ini, apa saja yang sudah dicapai ?
DDII berprinsip yang penting kami bekerja. Sejauh mana kita bisa mencapai, nantilah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Yang penting kita sibukkan dengan menyusun program-program sesuai dengan kemampuan kita. Menginformasikan tentang keadaan atau medan dakwah kita yang semakin berat. Menggiatkan kaderisasi, menggiatkan mengirim tenaga da'i ke daerah-daerah untuk menetap di daerah yang dipandang perlu untuk menempatkan tenaga da'i. Tidak mungkin kalau hanya satu atau dua jam bicara lalu pergi, itu tidak akan banyak manfaatnya. Kita juga mengadakan kerjasama denga berbagai lembaga yang sejalan bahkan dengan lembaga internasional misalnya Kuwait, Mesir, Pakistan, dan Malaysia.
Konon, pendirian DDII itu utamanya untuk meng-counter gerakan Kristenisasi. Betul seperti itu, Pak Hussein ?
Oh, tidak. Itu salah satu saja. Masa hanya untuk itu saja, dewan dakwah ini didirikan oleh Almarhum Pak Natsir, Almarhum Pak. Syafruddin Prawiranegara dan kawan-kawannya. Utamanya program kita itu berupaya menjalankan Amar Ma'ruf, Nahi Munkar. Kita juga terlibat dalam masalah perundang-undangan di Indonesia. Kita terlibat masalah hubungan internasional seperti masalah Palestina, Bosnia, Kashmir. Banyak sekali kita terlibat. Masalah lainya seperti aliran kepercayaan, masalah sekularitas dalam kehidupan, kita juga ikut terus memantau.
Tanggapan anda berkenaan dengan stigma fundamentalis terhadap DDII ?
Kita tidak pernah merasa begitu, biarlah orang lain menilai seperti itu. Kita merasa dalam hal-hal tertentu kita harus mempertahankan nilai-nilai Islam. Jika mempertahankan nilai-nilai islam itu dipandang sebagai fundamentalis, ya, biar saja. Tidak ada masalah buat kita. Contohnya, ketika Almarhum Pak Natsir sebagai orang yang pertama menentang paket Undang-Undang Bidang Politik, karena disitu dibahas Asas Tunggal dan lain-lain. Beliau menulis Indonesia di persimpangan jalan, kepada pemerintahan waktu itu. Ketika itu tidak ada satu pun pakar hukum tata negara yang berbicara. Di belakang hari sejarah membuktikan bahwa pemikiran Pak Natsir itulah yang betul. Usaha yang diperjuangkannya membuahkan hasil dengan dicabutnya asas tunggal itu oleh MPR. Apakah dengan seperti itu kami masih dianggap fundamentalis ? Waktu itu, saya juga ikut terlibat mempersiapkan bahan untuk penulisan. Istilah fundamentalis itu sebenarnya hanya dipakai oleh kepentingan paket-paket politik tertentu.
Statement DDII untuk umat berkenaan dengan kondisi sulit seperti sekarang ini?
Medan dakwah kita semakin berat. Problematika dunia dakwah kita semakin besar. Tapi kita tidak boleh kehilangan optimisme untuk terus memperkuat gerakan dakwah kita. Allah SWT melarang kita untuk berputus asa, kehilangan harapan. Lebih baik kita terus memperkuat komitmen kita, dengan berharap atas janji-janji Allah SWT.(red/uzie/aea)
Suripto:Cukong Kayu Memperalat Rakyat
Pada era pemerintahan Gus Dur, Suripto menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan. Pada masa-masa itu beliau terlibat banyak dengan masalah Illegal Logging. Dalam kiprahnya itu, Suripto mesti berhenti ditengah jalan, menyusul pemberhentian atas Nurmahmudi Ismail, Menteri Kehutanan ketika itu. Ada sangkaan dari Presiden, bahwa Suripto terlibat dengan tindak makar yang ia rancang bersama mantan Danjen Kopassus Muchdi PR. Dan dugaan itupun tidak pernah bisa dibuktikan.
Saat menjabat sebagai Sekjen Dephut, Suripto dikenal aktif memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang pada masa sebelumnya sering terjadi di Dephut. Iapun dikenal rajin melakukan penertiban internal departemen, melontarkan ide tentang sistem perencanaan kehutanan, dengan cara menyelamatkan dana reboisasi (DR). Dan karena kiprahnya yang kerap membuat gerah kalangan tertentu, beliau sempat menuai fitnah : dituduh melakukan konspirasi dengan TNI, untuk menyelundupkan kayu gelondongan ke luar Indonesia. Lagi-lagi, fitnah ini tidak bisa dibuktikan.
Berkenaan dengan makin maraknya kasus Illegal Logging akhir-akhir ini, reporter cyberMQ, Fiqi Fauzie, berusaha untuk mewawancarai Suripto. Berikut petikan wawancaranya :
Sebetulnya apa yang terjadi dalam peristiwa Illegal Logging ini, Pak ?
Cukong memperalat rakyat. Mereka memperalat rakyat kita. Keuntungan terbesar ada pada para cukong. Singkatnya, ada mafia kayu yang dengan sengaja mengeksploitasi kayu dengan illegal untuk menarik keuntungan sebesarnya-besarnya.
Dibawa kemana kayu-kayu itu, Pak ?
Dibawa ke dalam negeri lewat perusahaan industri pengolahan kayu. Rata-rata ada di Pulau Jawa. Perusahaan industri pengolahan kayu kan 70%-nya ada di pulau Jawa. Kemudian, kayu-kayu itu diselundupkan ke luar negeri. Terutama ke Malaysia dan dari Malaysia biasanya diekspor ke RRC, India dan Filipina.
Dampak dari aktivitas Illegal Logging ini, Pak ?
Kerugian negara kurang lebih 30 trilyun. Bayangkan saja BBM yang tadinya akan memberikan subsidi kepada kesehatan, pendidikan dan Raskin, kalau tak salah jumlahnya 40 trilyun. Jika Illegal Logging bisa diatasi, tidak perlu ada kompensasi subsidi dalam konteks BBM. Bahkan itu baru satu komoditi, belum lagi Ilegal Fishing ataupun Solar yang diselundupkan ke Singapura, total keseluruhan sekitar 100 trilyun.
Bagaimana pendapat Bapak soal Operasi Lestari II ini ?
Saya dukung operasi tersebut. Operasi tersebut ditujukan untuk menangkap basah para pelaku penebangan liar. Ya. Dengan catatan kalau itu memang bisa ditangkap di berbagai tempat untuk kemudian dibawa, dihukum, dan diusut. Memang Operasi Lestari II ini bisa melakukan itu, tapi tetap saja bukan cara yang efektif. Menurut saya cara lain bisa dilakukan dengan Operasi Intelegen. Jika operasi itu dilakukan, kemungkinan 5 cukong besar itu bisa ditangkap tanpa perlu mengerahkan pasukan besar. Artinya yang ditangkap bukannya cukongnya saja. Tapi bekingnya juga. Termasuk jenderal yang menjadi beking mereka atau laksamana yang membekingi mereka.
Eksekusi untuk para Cukong ini pantasnya bentuknya seperti apa, Pak ?
Mereka melakukan kerusakan besar untuk negara ini. Mereka juga telah merusak nama baik instansi yang menjadi beking, khususnya institusi tentara. Cukong ini harus dihukum berat. Menentukan hukuman seberat-beratnya adalah soal pembuktian. Saya khawatir alat bukti kayu gelondongan yang ditaruh jauh dari tempat pengadilan dicuri atau hilang separuh. Sehingga bisa meringankan seseorang yang sebenarnya harus jadi tersangka. Tapi karena alat-alat bukti tidak kuat dan lemah, maka orang itu bisa dihukum dengan ringan. Idealnya, hukuman itu diterapkan pada saat proses penangkapan maupun proses pengadilan.
Apa Peran masyarakat dalam penanganan masalah Illegal Logging ini, Pak Suripto ?
Masyarakat perlu mengawasi apakah yang ditangkap itu betul-betul cukong atau bukan. Jangan sampai secara kasar menjadi joki di lapangan. Hal itu menjadi tugas masyarakat untuk mengawasi secara aktif, serta mencari keterangan yang lebih kuat supaya yang jadi tersangka tidak mudah lolos kembali.
Oh ya, Pak. Mengenai sikap anggota DPR saat sidang membahas kenaikan BBM yang lalu itu ?
Menyesalkan sekali kejadian di DPR. Menurut saya itu menunjukkan kelemahan pimpinan DPR di dalam menyelenggarakan sidang. Artinya kelemahan itu tidak tegas dalam membawahi agenda yang diajukan dalam persidangan. Pimpinan seharusnya berani mengambil keputusan yang bijak. Artinya, jangan sampai suatu keputusan menimbulkan aksi dan reaksi dari para anggota DPR yang ikut dalam persidangan.(red/esna)
Deddy Mizward: "Masyarakat Butuh Film Religi"
Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, dikenal banyak terlibat dalam produksi film maupun sinetron bernuansa dakwah. Rata-rata karyanya sarat pesan moral, tetapi ringan dan menghibur. Aktor senior pemenang 4 Piala Citra (untuk film) dan 2 Piala Vidya (untuk sinetron) ini berhasil mempopulerkan serial Jejak Pengembara, Mat Angin dan Lorong Waktu.
Selepas sekolah, aktor asli Betawi ini sempat menjadi pegawai Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Hanya 2 tahun saja ia betah di pekerjaannya sebagai pegawai negeri itu. Ia lebih gandrung main teater – dan malah bergabung dengan Teater Remaja Jakarta.
Deddy pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki. Tidak sekedar mengandalkan bakat alam, Deddy kemudian kuliah di LPKJ, walaupun cuma dua tahun. Pertama kali main film, dalam Cinta Abadi (1976) yang disutradarai Wahyu Sihombing, dosennya di LPKJ, dia langsung mendapat peran utama. .
Sekarang, Bapak 2 anak ini telah memperoleh 2 Piala Citra, masing-masing dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) dan Naga Bonar (1987). Di era sinetron Deddy juga cukup eksis. Dengan bendera PT. Demi Gisela Citra Sinema ia memproduksi dan membintangi sendiri sinetron dan filmnya.
Beberapa film yang sudah dibintanginya : Kiamat Sudah Dekat ( VCD ) 2003, Naga Bonar 2000, Plong ( VCD ) 2000 Hatiku Bukan Pualam 1999, Sunan Kalijaga & Syech Siti Jenar 1999. Dia pun mendapat berbagai penghargaan : Aktor Terbaik FFI (Naga Bonar) 1987, Pemeran Pembantu Terbaik (Piala Vidia FSI ). 1996, Aktor Terbaik FFI (Kejarlah Daku Kau Kutangkap) 1986, dan 12 Kali Unggulan FFI.
Berkenaan dengan Hari Perfilman Nasional, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzie, berkesempatan mewawancarai Deddy Mizwar, berikut petikan wawancaranya :
Apa yang memotivasi Bang Deddy disaat menggarap film bertema religius ?
Mempertanggungjawabkan apa yang kita buat dihadapan Allah. Kedua, memancing sisi emosional dari penonton, dan juga mendorong demokratisasi perfilman. Film ‘kan tidak boleh seragam. Harus ada pilihan juga. Tidak ada penonton yang menyukai dan mencari film-film religi ? Tentu pasti ada. Masyarakat kita adalah masyarakat yang sebagian besar umat islam. Saya merasakan adanya ketidak-adilan, ketika pilihan tontonan untuk umat islam justru tidak tersedia.
Bagaimana caranya agar film-film religius bisa diterima oleh masyarakat ?
Saya kira persoalannya hanya satu, yaitu kreatifitas kita dalam menggarap tema-tema religius. Saya kira penonton pasti menyukai cerita yang dekat dengan kehidupan kesehariannya.
Film religius yang ada saat ini bagaimana apresiasi penonton kita ?
Ya. Baguslah. Itu juga kan salah satu alternatif yang diberikan kepada penonton. Saya kira walaupun mungkin masih kurang penontonnya, bisa jadi karena promosinya yang juga tidak gencar. Pokoknya yang penting ada dululah film-film bertemakan religi itu. Baru kemudian dibina terus, dikembangkan terus minat penonton terhadap film-film seperti itu. Jangan dibiarkan penonton tidak punya pilihan. Nanti akhirnya kita malah mendorong mereka menonton film yang tidak jelas juntrungannya.
Bang Deddy cenderung memilih setting dulu atau sekarang ?
Setting zaman dulu dengan sekarang sama saja. Boleh saja kita mengenang para auliya, anbiya, para waliyullah di masa lalu. Malah harus. Tapi kondisi dunia sekarang ini banyak sekali yang menuntut kita untuk cerdas secara religi. Kondisi kekinian itu masih banyak yang perlu dibenahi secara islami. Menurut saya seharusnya lebih gencar dibuat setting yang menyebabkan islam relevan memecahkan masalah kekinian.
Ada bocoran tentang film religi terbaru yang sedang digarap Bang Deddy ?
Sementara ini saya lagi bikin sinetron dulu. Mungkin november saya buat lagi satu film layar lebar. Judulnya sepatu merah atau terompah bilal.
Hari Film Nasional, harapan mas apa ?
Saya kira Film indonesia sudah menggeliat. khususnya yang layar lebar. Bioskop sudah bertambah sedikit demi sedikit di kota-kota yang tadinya tidak ada bioskop. Di Pontianak, kemudian di Yogya baru mau dibangun bioskop baru. Katanya disana cuma satu bioskopnya. Kasihan sekali. Yogya kan kota budaya. Saya kira sudah ada perkembangan yang bagus, sudah ada momentumnya, tinggal bagaimana kita mencoba memelihara dan mengembangkan dengan rasa tanggungjawab. Sebagai sineas dan juga masyarakat dituntut untuk melihat film indonesia secara kritis, sehingga betul-betul yang dibuat sineas ini bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Sineas muda kelihatannya menghindari tema religius?
Mudah-mudahan mereka panjang umur. Sampai bisa membuat film yang lebih baik lagi, dengan kesadaran spiritualnya. Mereka itu sebenarnya sudah trampil, tinggal masalah contentnya saja. Toh mereka juga dekat dengan para sineas senior. Bahkan kita yang senior ini konsultasi banyak dengan mereka, soal masalah peredaran, soal bagaimana mempromosikan. Segala macam saya belajar kepada mereka. Tidak ada gap dengan mereka. Semuanya OK … rata-rata tidak ada masalah. Saya melihat spirit mereka luar biasa. Saat film indonesia hancur, mereka berani ambil resiko. Saya kira itu didorong semangat yang tinggi dan kebetulan mereka punya juga pendukung-pendukung sponsor di belakangnya. Mereka sudah melihat bisnis film ini bukan hanya film saja, tapi bisnis dengan produk-produk lain. Mereka telah membuat terobosan itu. Kita harus akui kejelian mereka dalam melihat peluang.
Menyikapi musibah sekarang ini?
Ini sebagai bahan perenungan buat kita semua. Ujian ini harus kita hayati agar menambah ketawakalan kita. Sehingga melihat kekuasaan Allah lebih jelas, menumbuhkan kesadaran lebih tinggi soal ketauhidan. Saya berpikir, mereka yang menjadi korban Insya Allah dijadikan media oleh Allah untuk memberi kita contoh. Mudah-mudahan mereka mendapatkan berkah dari sisi-Nya.(red/yance)
Arief Rahman:Mutu Pendidikan Tergantung Mutu Pemerintah
Prof. Arief Rahman memiliki cita-cita menjadi guru sejak kecil. Pada tahun 1964 waktu umurnya 24 tahun, tercapailah apa yang ia cita-citakan selagi kecil. Buah dari ketekunannya memperdalam profesi pengajar, Prof. Arief Rahman mendapatkan penghargaan Dosen Teladan IKIP Jakarta tahun 1982.
Saat ini, Prof. Arief Rachman juga menjabat sebagai ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Tugasnya adalah mensukseskan program UNESCO di Indonesia dan menilik program yang pantas dibantu oleh UNESCO. Disela-sela kegiatannya yang padat itulah, reporter cyberMQ, Fiqi Fauzi, mencoba mewawancarainya secara singkat. Berikut petikannya :
Kami melihat penilaian terhadap pelajar cenderung hanya tertuju pada kecerdasan intelektualnya saja. Bukankah penilaian terhadap aspek-aspek lain sebenarnya juga sangat dibutuhkan ?
Ukuran keunggulan seorang pelajar memang terletak pada kemampuan intelektualnya. Hanya itu belum sempurna. Jika mau sempurna, harus dilihat juga kematangan spiritual, kematangan emosional, dan kematangan sosialnya. Hanya, secara lazim, yang diukur oleh institusi sekolah jelas kematangan intelektualnya. Yaitu kemampuan berpikir tinggi dalam mata pelajaran.
Saat ini begitu marak didirikan sekolah-sekolah unggulan. Bagaimana pendapat Bapak atas fenomena tersebut ?
Itu bagus. Kalau sekolah memang harus ada yang dijadikan percontohan. Sekolah unggulan itu adalah sekolah yang sudah melalui proses yang dialami, sehingga ia bisa dikatakan unggul. Unggul dalam kegiatan, unggul di dalam akademis, unggul dalam penelitian. Jadi harus ada yang unggul. Jika tidak ada sekolah unggulan kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan negara-negara berkembang lainnya. Itu penting. Jadi sekolah unggulan diperlukan untuk dijadikan contoh. Kalau bisa semakin banyak sekolah lain yang menjadi unggulan.
Jadi semakin banyak, semakin bagus, Pak Arief ?
Lho, yang namanya unggul kalau banyak 'kan bagus. Kalau yang unggul berjamuran, itu bisa menjadi contoh bagi yang lainnya.
Tahun 2004 lalu UNDP mengumumkan bahwa Human Development Index (HDI) masyarakat Indonesia berada di urutan ke 112. Berada di bawah negara yang baru saja bangkit : Vietnam. Adakah yang keliru dengan sistem pendidikan kita, sehingga menyebabkan kualitas SDM kita menjadi rendah ?
HDI sangat tergantung dari kualitas pemerintahannya. Jika pemerintah bisa menghasilkan orang-orang sehingga mempunyai cukup sandang, pangan dan papan, maka kualitas pendidikan kita juga akan baik. Pendidikan itu tidak berdiri sendiri. Naik turunnya kualitas pendidikan tergantung pada mutu daripada negara dan pemerintah itu sendiri. Negara kita 'kan sedang menyelesaikan soal korupsi dan masalah lainnya. Saya rasa wajar-wajar saja kita belum unggul secara akademis.
Bagaimana metode belajar-mengajar di SMU Labs School ?
Biasa-biasa saja. Cuma memang banyak kegiatan dengan fokus untuk menopang jati diri seseorang. Kami memberikan kesempatan untuk kegiatan yang sifatnya bervariasi. Tetapi yang baku dari pemerintah juga kita terapkan.
Pernahkah Bapak melakukan studi banding ke luar negeri ?
Saya belum pernah studi banding. Saya kira kalau bisa sekolah ke luar negeri, ya hebat itu. Kualitasnnya pasti bagus. Orang kita yang mau sekolah ke luar negeri pasti memilih tempat-tempat yang sudah terseleksi dan terdaftar akreditasinya dengan baik di luar negerinya.
Ada kecenderungan setiap pergantian kepemimpinan selalu diikuti dengan perubahan sistem pendidikan lama dengan sistem pendidikan baru ?
Jika perubahan untuk memperbaiki, saya kira efektif. Tetapi jika perubahan itu hanya demi perubahan itu tidak bagus. Saya menganggap kita janganlah anti perubahan. Kita harus bisa melihat perubahan itu sebagai peluang untuk memperbaiki bangsa ini.
Terakhir, Bagaimana pendapat Bapak tentang berubahnya status sekolah-sekolah tinggi/ universitas menjadi BHMN ?
Bagus. Institusi nantinya bisa cari uang sendiri. Jadi, tidak segala sesuatu tergantung pada pemerintah. Justru pihak institusi akan kreatif mencari sumber pembiayaan dengan caranya sendiri. Masalah dan kontra pasti selalu ada. Tetapi saya pikir kita harus optimis melihat sisi baik dari kebijakan tersebut. Hikmah dari suatu rencana itu pasti selalu ada. (red/aburashif)
dr. Kunkun Wiramihardja :"Hidup Sehat = Makan Serba Cukup"
dr. Kunkun K Wiramihardja, dipl. nutr adalah nama yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat dan pemerhati masalah gizi. Diantara banyak ahli gizi di Indonesia, Pak Dokter yang santun dan shalih ini dapat dikategorikan sebagai pakar senior. Tak pelak lagi, dalam setiap seminar seputar masalah kesehatan dan gizi, dokter yang juga pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini banyak didapuk untuk menjadi pembicara.
Disela-sela kesibukan praktek dan jadwal kegiatannya yang padat, peraih gelar diploma ahli nutrisi dari Universitas Indonesia ini mengasuh kolom konsultasi gizi di majalah Percikan Iman. Kolom yang sudah memiliki banyak pembaca khusus itu, membuat Pak Dokter yang telah berpraktek sejak tahun 1968 ini menjadi favorit dikalangan remaja dan ibu rumahtangga, yang selalu ingin tampil menarik dengan cara mengatur pola makan sehat.
Berkaitan dengan ditemukannya banyak kasus kuasiokor (busung lapar) di Indonesia, wartawan cyberMQ, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai beliau. Berikut hasil wawancaranya :
Pak Dokter, akhir-akhir ini banyak ditemukan kejadian busung lapar. Sebenarnya apa busung lapar itu ?
Busung lapar adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi, yang berasal dari makanan dalam jangka waktu panjang. Gejala yang muncul adalah terjadi bengkak di daerah kaki, perut kembung penuh dengan air, tangan kurus, muka kurus, tapi perut semakin buncit. Buncitnya bukan karena asupan makanan, tetapi justru karena banyak diisi air. Ini mengindikasikan kekurangan gizi dalam tingkat yang berat.
Yang biasa terjangkiti siapa, apakah anak-anak saja ?
Bisa terjadi pada semua individu. Jika kasus busung lapar banyak ditemukan dalam masyarakat, itu menandakan akses keseluruhan rumah tangga terhadap makanan betul-betul memprihatinkan. Semua individu bisa terjangkiti penyakit ini. Hanya yang paling sensitif adalah balita. Balita itu paling rentan terkena penyakit ini. Pada balita cepat sekali terlihat gejal-gejalanya. Tetapi, ciri yang muncul menandakah bahwa penyakitnya kronis, dan berarti ia sudah lama menderita penyakit tersebut. Golongan balita memang paling rentan kekurangan energi dan protein.
Pandangan Dokter terhadap busung lapar di indonesia seperti apa ?
Pada tahun 1960 - 1980 banyak masyarakat, khususnya anak-anak yang kekurangan gizi. Masalahnya ada yang ringan, sedang dan berat. Tingkat ringan, anak kelihatan kurus, pertumbuhan terganggu, berat badan tidak sesuai dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Tingkat sedang lebih berat. Pertumbuhannya betul-betul terganggu. Dan pada tingkat berat, tingkat yang serius, seiring dengan perbaikan ekonomi, membaik juga gizi yang bisa diberikan. Sekarang, tiba-tiba malah terjadi ledakan seperti ini.
Kalau masyarakat sampai kekurangan pangan dalam tingkat berat hanya ada dua penyebab. Dia tak bisa makan karena penyakitnya atau karena sangat kekurangan pangan. Tapi dalam kejadian busung lapar saat ini, faktor kedualah yang lebih berpengaruh. Masalahnya bukan ada di individu lagi, tapi di masyarakat. Masyarakat sudah benar-benar miskin. Maka problem busung lapar saat ini sudah bukan problem individual, kasus ini bisa digolongkan problem komunitas. Sepanjang pengamatan saya, masyarakat umumnya akan mendahulukan makanan. Daya beli mereka yang rendah untuk mencukupi kebutuhan pangan, berarti kendalanya ada pada aspek ekonomi.
Sudah berapa lama penyakit ini ada di indonesia ?
Sejak saya jadi dokter tahun 1968 sudah jadi masalah. Makin lama makin berat, kemudian berangsur berkurang. Lalu timbul masalah lain, yaitu kelebihan gizi, kelebihan berat badan dan kelebihan kolesterol. Indikator negara miskin adalah bila tingkat gizi masyarakatnya kurang. Ini peringatan bahwa indonesia tidak bisa mengatakan dirinya kaya. Disinilah kepedulian masyarakat harus dilihat. Disatu pihak ada orang yang bergizi lebih, dipihak lain ada orang yang kekurangan gizi.
Kekurangan gizi adalah masalah yang sangat serius. Daya tahan tubuh berkurang, mudah sekali terjangkit penyakit infeksi, bahkan tingkat kecerdasanpun akan jauh tertinggal. Jika ini kita biarkan, maka generasi yang akan datang adalah generasi yang rendah usia hidupnya. Jikalau hiduppun, mereka akan hidup dalam kondisi tubuh kecil, tidak tinggi, kurus dan bodoh. Jadilah masalah kekurangan gizi ini masalah bangsa, masalah kita semua. Jika pemerintah tidak turun tangan, maka kita harus mengentaskannya bersama-sama.
Upaya pemerintah sudah efektif, Pak Dokter ?
Saya tidak mau mengkiritisi itu. Kita lihat saja kenyataannya, koq seperti ini. Berarti kita set back mundur ke zaman dulu. Semoga pemerintah cepat tanggap dan tahu betul apa yang mesti dilakukannya.
Hidup sehat menurut Pak Dokter ?
Hidup sehat dicirikan dengan keteraturan makan, makanan cukup kandungan zat gizinya. Tidak berlebihan, tidak kurang, tapi sesuai. Aktivitas fisik harus berjalan dengan baik, tidak sekedar banyak duduk. Pokoknya hidup sehat itu berarti makan serba cukup, tapi tidak melampaui batas. Batas itu ada 2 : batas maksimum dan batas minimum. Batas maksimum tidak dilampaui, batas minimum tidak dibawah itu. (red/aea)*
Astri Ivo, “Jadi Muslimah Itu Harus Inner Dan Outer”
Astri Ivo - mantan bintang layar lebar kelahiran 21 September 1964, belakangan ini lebih memilih menghabiskan waktunya bersama keluarga. Namun begitu, tak berarti Astri surut dari dunia akting, bidang kesenian yang telah ia geluti semenjak usia 4 tahun
Di samping tak lepas mendampingi anak-anaknya, wanita yang akrab dipanggil Aci ini memiliki kesibukan di luar rumah. Hari-harinya digilir untuk mengikuti pengajian di berbagai majelis taklim di Jakarta.
Semua itu dinikmatinya dengan tanpa beban. Karena semakin mendalami agama kita seakan tetap diingatkan, dan disadarkan betapa banyak perbuatan kita yang selama ini masih tidak sebaik yang diharapkan, katanya.
Putri penyanyi Ivo Nilakresna ini pernah pula mengikuti kuliah PMA (Pendidikan Mubaliq Al-Azhar), untuk memperkaya kemampuannya di bidang ilmu retorika, fiqih, Alquran, hadits
Di sela-sela kesibukannya beraktivitas, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi M, berkesempatan untuk mewawancarai istri dari pengusaha Ir. Dariola ini. Berikut Petikan wawancaranya :
Putri Indonesia 2004, Artika Sari Devi, baru saja selesai mengikuti kontes ratu sejagat. Sebelumnya ada pendapat pro dan kontra dari masyarakat luas, terutama umat Islam. Mbak Astri termasuk yang menentang atau mendukung pengiriman Putri Indonesia ke ajang tahunan itu ?
Bagaimana saya bisa mendukung ? Manusia hidup itu kan harus berorientasi jangan hanya pada duniawi saja, tapi harus menyadari bahwa kita tidak selamanya disini. Kita kan harus mengikuti peraturan-peraturan dari ”Yang Memberikan kita hidup." Jika kontes putri-putrian seperti itu ada sesi yang tidak sesuai dengan standar hidup seorang muslim, saya tentu menentang, karena harus sesuai dengan ajaran yang kita terima dan harus sesuai dengan standar hidup kita. Standar hidup kita mungkin tidak semua sama, tapi kita kaum muslimin standar hidupnya sudah jelas. Padahal jika tidak mengumbar aurat juga bisa lebih bagus, sayangnya ada hal hal yang tidak bisa kita ikuti.
Adakah aspek baik dari penyelenggaraan kontes Miss Universe ?
Dengan adanya tuntutan mereka harus cerdas, harus pintar, berwawasan lugas dan mereka bisa mempromosikan negaranya, saya gak ada masalah. Tapi apa harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar hidup kita ? Kalau kita orang muslim standar hidupnya kan Al-Quran dan Hadits.
Pernahkah ada sejarah kontes serupa, tapi yang tidak mengumbar aurat ?
Sepengetahuan saya gak ada yang mempeloporinya
Jika dikaitkan dengan penyelenggaraan kontes serupa di Indonesia bagaimana penilaian mbak ?
Sama saja, karena standar auratnya berbeda, mereka berfikir apa yang dipakai sudah layak. Saya tidak setuju, karena tidak sesuai dengan moral dan pendidikan agama.
Sebetulnya apa makna kecantikan seorang wanita dalam pandangan Mbak Astri ?
Kecantikan itu mesti dilihat dari luar secara konteks dan aspek kontent dari dalam. Jadi muslimah itu harus inner dan outer. Jangan inner saja atau sebaliknya outer saja. Jadi harus balance dalam mengisi hidupnya. Harus isi dan kulit. Itu baru dikatakan cantik.
Apa pesan Mbak Astri bagi kalangan muslimah pembaca cyberMQ ?
Kembali ke Quran, fahami, baca ingat-ingat dan laksanakan apa yang terdapat dalam Al-Quran, karena sesungguhnya semua perintah itu kebaikannya untuk kita. Semua larangan itu kebaikan, kesenangan, dan keselamatan untuk kita. Kenapa Perempuan muslim harus cerdas, harus mengerti hak hak kita dan juga mau menjalankan kewajiban kita. Kita ini muslimah harus cerdas karena kita akan menjadi seorang ibu. Ibu itu madrasah, bagaimana bisa mendidik jika tidak memiliki ilmu.
Bagaimana cara kita untuk mengcounter masuknya budaya barat ?
Ya, yang baik diambil dan yang jelek ditinggalkan. Kalau budaya-budaya barat kan banyak juga budaya-budaya islaminya, misalnya tentang disiplin, kebersihan, profesionalisme, itu kan hal-hal yang baik, tapi harus sesuai dengan standar hidup kita yaitu Al - Quran dan As-Sunnah. (red/mikha)***
Markus Rogan, "Hindari Narkoba"
Perenang Austria, yang juga peraih medali emas Olimpiade, Markus Rogan, terpilih menjadi jurubicara UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime/ Badan PBB untuk Narkoba dan Kriminalitas) 2005. Tema peringatan yang diusung tahun ini adalah "Value Yourself, Make Healthy Choices" (Hargai Dirimu, Tentukan Pilihan yang Sehat). Tema ini dipakai secara internasional oleh UNODC dalam usaha memerangi penyalahgunaan narkoba dan tindak kejahatan.
Selain menjadi peraih medali emas Olimpiade, Pria berusia 23 tahun tersebut baru-baru ini dinobatkan pula menjadi olahragawan terbaik Austria.
Berikut ini hasil wawancara Louis Potterton kepada Markus Rogan, selaku duta sekaligus motivator dalam aksi kampanye Hari Anti Madat Internasional tahun 2005. Berikut petikan wawancaranya.
Selaku jurubicara kampanye Hari Anti Madat Internasional untuk UNODC, apa motivasi anda mengikuti kampanye ini ?
Saya mempunyai beberapa rekan yang menjadi korban narkoba. Awalnya mereka mulai dengan mencoba kokain, sejak umur 18 atau 19 tahun. Mereka menggunakan zat terlarang itu tanpa mengetahui konsekuensi secara biologis atau kimia yang akan dialami. Saya pikir, untuk menanggulangi masalah pelik seperti ini memerlukan yang tidak sedikit. Menurut saya, mereka juga membutuhkan figur untuk menjadi teman. Kita harus mengajak mereka, jika mereka ingin berubah maka harus mencoba melakukan sesuatu yang bermanfaat
Apa saran Anda bagi para remaja yang rentan terkena narkotika, dan apa pengaruhnya ?
Oh tentu saja saya berharap mereka jangan pernah mencoba mendekati nikotin sampai kokain. Karena dengan mencoba narkotika, mereka hanya akan mendapatkan kesenangan sementara, tanpa ada arti apa-apa. Mereka hanya akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Kepada para remaja, saya sarankan agar mereka berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Hindari Narkoba. Karena dengan mencoba benda terlarang seperti itu, mereka hanya akan mendapatkan kesenangan sesaat, namun setelah itu mereka akan merasakan kesengsaraan karena ketagihan narkoba.
Kampanye tahun ini, memilih tema "Value Yourself, Make Healthy Choices" (Hargai Dirimu, Tentukan Pilihan yang Sehat), apakah hal itu mempengaruhi kehidupan anda ?
Saya berprofesi sebagai atlet, jika saya tidak bisa menjaga tubuh dan kesehatan, maka pekerjaan saya akan hancur. Oleh karena itu, saya senantiasa berusaha untuk menjaga kesehatan sebaik mungkin dengan berolahraga. Maka, saya pun ingin menghimbau kepada anda, untuk melakukan hal yang serupa, karena jika tidak, tubuh anda akan cepat rusak. Dengan berolahraga secara teratur, Anda akan dapat hidup sehat secara alami, tanpa membutuhkan berbagai macam suplemen
Sebagai olahragawan, apakah olahraga bisa mencegah seseorang untuk terhindar dari anacaman narkotika ?
Kita bisa melihat perbedaan yang mendasar antara kesenangan sementara dengan kesenangan secara alami. Saya pikir, olahraga merupakan cara terbaik untuk menghilangkan kebosanan bagi para remaja yang menghargai tubuhnya. Saya percaya, masa remaja merupakan usia profesional untuk berkreasi. Karena jika mereka lebih memilih narkoba untuk mencari kesenangan, percayalah, mereka hanya akan dihantui perasaan takut gagal, takut salah, serta takut kalah. (red/fzyqn)***
Interview with Riza Sihbudi About Terorisme
Menurut Bapak definis teroris sendiri seperti apa ?
Selama ini memang masalah terorisme ini tidak bisa didefinisikan secara objektif, artinya kecenderungan yang berkembang terutama yang dikembangkan oleh media barat ataupun para politisi Barat yaitu definisi yang sebetulnya sangat subjektif. Mereka menganggap terorisme sebagai suatu aksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok non state artinya non negara. Padahal, terorisme juga bisa dilakukan oleh negara. Sebenarnya pelaku terorisme itu ada tiga macam, bisa individu, kelompok atau state. Namun, kategori state terorisme itu cenderuhng sengaja di abaikan, sehingga terorisme banyak diarahkan kepada kelompok bukan negara. Kita lihat sebetulnya pelakunya bisa macam-macam. Inti dari terorisme itu sebetulnya menjadikan orang sipil sebagai korban dari aksi dengan motif-motif politik. Aksi itu cenderung tidak ada pemilihan sasaran, semua sasaran dianggap sah oleh para teroris. Dalam pemahaman saya arti terorisme bisa juga kelompok atau state.
Umat islam kerap dituduh sebagai pelaku aksi teroris, pandangan bapak sendiri seperti apa ?
Saya melihat ini bagian dari kebijakan atau policy pemerintah Amerika terutama Presiden George W Bush yang menganggap Islam sebagai musuh, sebagai lawan berikutnya setelah runtuhnya Uni Soviet. Bagaimanapun juga Amerika butuh musuh baru, butuh musuh bersama (common enemy) dalam hal ini adalah Islam. hal ini berlaku sejak 11 september, sekitar 9 bulan naiknya Bush. Itu jelas sekali bahwa masalah ini diarahkan kepada Islam karena sesuai dengan pandangan Huntington dalam bukunya clash of civilization yang sangat dikagumi Bush.
Bagaiamana memperbaiki citra Umat Islam yang selalu dituduh teroris?
Ini memang agak sulit, karena umumnya media-media besar, media-media utama dunia maupun media di negara islam cenderung mengekor kepada media-media barat yang sebenarnmya didominasi kalangan Yahudi. Mereka mengembangkan opini seperti itu kecenderungan ditelan mentah-mentah oleh media kita dan akhirnya opini itu cenderung menjadi bukti. Selama ini kan opini itu belum tentu sama dengan realitasnya. Opini yang dikembangkan berulang-ulang, meski tidak ada bukti. Tapi karena opini itu terus dikembangkan seakan-akan opini itu menjadi bukti seperti misalnya opini bahwa Al-Qaida menyerang WTC. Itu baru opini, belum dibuktikan oleh status penyelidikan independen, maupun pengadilan.
Bagaimana dengan pemberlakuan UU Teroris di berbagai negara ?
Sebetulnya hal itu tidak bisa lepas dari tekanan Amerika, karena selama ini banyak bergantung kepada Amerika, baik bantuan Amerika maupun yang lainnya, sehingga ketika Amerika mendeclare seakan-akan sebuah war on terorisme atau war against terorisme, perang melawan terorisme seakan-akan semua negara harus mengikuti kemauan Amerika. Bahkan yang kita lihat, jika tidak mendukung kebijakan Amwerika disebut sebagai teroris.
Kondisi Umat Islam Indonesia banyak dicurigai sebagai teroris ?
Ini karena stigma yang dibangun bahwa seorang Islam itu terosris, jadi seakan-akan semua orang islam itu teroris padahal pelaku teroris bukan hanya orang islam. Masalah teroris itu sangat subjektif, misalnya aksi yang dilakukan Israel ke Palestina itu teroris, yang dilakukan Amerika kepada Irak dan Afghanistan itu juga teroris. Setiap aksi kekerasan yang mengorbankan orang sipil sebetulnya itu teroris. Jangan sampai ada diskriminasi, jika korbannya orang bule dia bilang teroris, tapi jika korbannya orang Islam dia bilang bukan teroris. Saya kira ini adalah tugas berat bagaimana Umat Islam betul-betul tidak terbawa arus media barat yang cenderung merugikan Umat Islam.
Berkaitan dengan Abu Bakar Baasyir yang sampai saat ini belum dibebaskan dan belum jelas kesalahannya, bagaimana ?
Sebetulnya itu tidak lepas dari tekanan Amerika, sudah terbukti ketika tahun lalu seorang penterjemah Presiden Amerika menyaksikan sendiri bahwa bagaimana Amerika menginginkan Abu Bakar Baasyir di deportasi ke Amerika. Karena ini stigma, Baasyir ini sudah dituduh sebagai pemimpin Jamaah islamiyah oleh Amerika, jika beliau dibebaskan maka semua skenario Amerika mengenai Jamaah Islamiyah menjadi gugur. Oleh karena itu, Amerika berkepentingan supaya Baasyir paling tidak jangan dilepaskan walaupun tidak dikirim ke Amerika. Intinya bagaimana caranya supaya tetap ditahan, karena Baasyir itu simbol dari pemimpin Jamaah Islamiyah. Apapun alasannya, tetap dicari-cari bahwa Baasyir harus tetap ditahan meski pengadilan sudah jelas-jelas tidak mampu membuktikan keterlibatan Baasyir sebagai terorisme Jamaah Islamiyah.
Riza Sihbudi, Pria kelahiran Pekalongan 28 Juni 1957, menyelesaikan studinya dari Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) tahun 1984. Riza dikenal sebagai pengamat masalah Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan CMES (Center for Middle East Studies). Selain menjadi penulis dan pembicara dalam berbagai acara, aktivitas Riza lainnya sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia. Buku yang pernah ditulisnya antara lain ; Dinamika Revolusi Iran, Barat Timur Tengah, Eksistensi Palestina, Indonesia Timur Tengah Masalah dan Prospek
H Dudi Muttaqien, 'Orangtua & Anak Harus Musyawarah'
Di kota Bandung, Ustadz Dudi Muttaqien dikenal luas sebagai "konsultan" terpercaya untuk urusan keluarga sakinah. Banyak kalangan pasangan muda maupun lanjut usia yang antusias mengikuti acara pengajian keluarga sakinah, dimanapun Ustadz Dudi Muttaqien hadir sebagai pemateri.
Pada kesempatan senggang, ditengah kesibukannya mengajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Jawa Barat, Fiqi Fauzi, reporter cyberMQ, berhasil mewawancarainya via telepon. Bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional yang ke 12 pada tahun ini, putra ulama kenamaan KH EZ Muttaqien ini mengemukakan pandangan dan berbagai kiat seputar pembentukan keluarga sakinah. Berikut petikan wawancara dengan Ustadz yang selalu tampi simpatik dan periang ini :
Apa pendapat Pak Ustadz berkenaan dengan rata-rata kondisi keluarga Indonesia sekarang ini ?
Pada saat ini sistem keluarga yang ada di Indonesia sudah nyaris tidak punya corak khusus. Bahkan strukturnya pun bebas sekali. Sehingga tampak tugas-tugas dari setiap pasangan itu saling tumpang tindih. Yang mestinya istri menerima nafkah dari suami, suami memberi nafkah kepada istrinya, sekarang malah masing-masing sibuk mencari nafkah. Dalam kondisi seperti itu, sulit sekali untuk menentukan siapa imam, siapa makmum dalam rumah tangga. Ini masalah yang sangat berat. Gambaran dari konstruksi yang sudah tidak karuan bentuknya.
Bapak adalah putra seorang ulama. Bagaimana didikan orang tua terhadap Bapak ?
Orang tua saya betul-betul tidak memberikan didikan secara khusus. Mereka hanya memberikan keteladanan, contoh-contoh kebaikan saja. Pengaruhnya sangat istimewa. Saya, adik, dan kakak-kakak saya merasakan betul bagaimana nikmatnya diperintah, disuruh-suruh oleh orangtua. Ketika kami diperintah oleh orangtua, kami kakak-beradik selalu merasa gembira, bahkan kami selalu saling menunggu, berebut memenuhi apa yang diperintahkan oleh mereka. Apa yang menjadi penyebabnya ? Kami sendiri tidak tahu. Barangkali, ini merupakan wujud kekaguman kami terhadap mereka. Oleh karena itulah, dalam beberapa event ceramah, saya selalu mengajak : marilah kita menjadi orang tua yang membuat anak mudah taat kepada orang tua, mudah taat dan mengabdi kepada Allah SWT, melalui orang tuanya. Tentu saja, itu semua akan terpenuhi, jika kita orangtua berupaya keras menjadi sosok orangtua yang "mengagumkan" atau pantas dikagumi.
Banyak tayangan TV memperlihatkan : bagaimana seorang anak memperlakukan orangtuanya secara tidak pantas. Apa komentar Pak Ustadz berkenaan dengan kecenderungan atau maraknya tayangan seperti itu ?
Saya kira, tidak mungkin sutradara berimajinasi dari pengalaman yang tidak pernah dia lihat. Terkecuali sutradara yang betul-betul hanya membuat tontonan imajiner, diluar kejadian, atau pengalaman manusia yang lazim. Saya yakin, untuk cerita-cerita seperti yang telah saudara ungkapkan itu, sutradaranya pasti mengambil contoh dari realita, mungkin kejadian-kejadian yang lazim terjadi dalam keluarga-keluarga di kota-kota besar. Kecenderungan sikap anak yang keluar dari kepantasan bisa berasal dari tontonan yang biasa mereka lihat. Saya pernah mengadakan acara pada tahun 1980. Saat itu, Asrul Sani menjelaskan bagaimana dampak sebuah film terhadap mental seseorang. Waktu itu, kebetulan saya yang menjadi panitia diskusi panelnya. Berkenaan dengan dampak suatu tontonan terhadap masyarakat, beliau pernah mengatakan, itu terserah kepada masyarakat yang menontnnya. -Kami (pembuat film) hanya mencari uang,- begitu kata beliau. Maka sejak itu, sampai hari inipun, saya pikir sama saja. Bahwasanya semua sutradara, produser film, cuma memiliki satu tujuan : hanya mencari uang. Berkenaan dengan itu, maka akhrinya tergantung orangtua dalam menyeleksi sebuah tontonan. Sangat penting partisipasi orangtua untuk mengarahkan seluruh anak-anaknya ketika menyimak suatu tontonan.
Bagaimana keluarga yang berkualitas itu, menurut pandangan Pak Ustadz ?
Kualitas bukan semata-mata hanya kualitas keilmuan, kualitas sikap mental, kualitas disiplin dan kualitas-kualitas yang bersifat duniawi. Perlu diketahui, dalam materi Manajemen Qalbu, ada bentukan kualitas pribadi, dimana kecerdasan emosi betul-betul terlibat dalam membentuk keluarga berkualitas. Keluarga yang berkualitas tentu akan hadir, ketika keluarga ini tampil beriman, dekat dengan Allah SWT, dijiwai oleh semangat qur'ani dalam setiap aktivitas dan interaksinya.
Banyak ditemui kejadian, sebuah keluarga muda yang awalnya harmonis, tapi tiba-tiba kemudian berpisah atau bercerai. Pak Ustadz bisa menjelaskan mengapa fenomena demikian dapat terjadi ?
Awal yang harmonis terbentuk sebab masing-masing pihak memiliki motivasi yang sama. Dan kita tentunya mengetahui, bahwa kesamaan motivasi membentuk kesamaan langkah. Kenyataannya, setelah perjalanan cukup panjang, setelah sebagian cita-cita itu tercapai, motivasi masing-masing mulai berubah. Mulai terjadi tarik menarik. Oleh sebab itu, setiap pasangan perlu memahami kaidah, bahwa dalam perjalanan rumah tangga, jangan pernah saling "meminta", cobalah untuk lebih saling memberi terhadap pasangan kita. Dengan saling memberi, kita semakin "kaya". Dengan saling meminta, kita malah akan semakin miskin. Ini penting sekali untuk dipahami. Sebab pada umumnya memang sering terjadi, dan tentu saja, hawa nafsu yang sering mencampurinya.
Bagaimana cara mendidik anak yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW ?
Rasulullah mendidik anak dengan keteladanan. Ada kalimat lisanul hal afsohumin lisanil maqool. Artinya, keteladanan sikap jauh lebih baik daripada keteladanan ucapan.
Pada akhir tahun 80-an ramai dikampanyekan satu bentuk, satu pola, dimana kebebasan dan keterbukaan harus diwujudkan. Rata-rata orangtua diminta untuk memberikan kebebasan penuh kepada anaknya untuk : memilih sekolah, memilh langkah, memilih perilaku, dan lain sebgaianya. Semua media ketika itu mengkampanyekan pola kebebasan ini. Hasilnya, sekarang ini, terjadilah apa yang disebut dengan kebebasan itu. Adakalanya ketika menikah, kadang orang tua cukup memberikan dana, urusan acara yang mengatur dipersilahkan anaknya saja. Ini tidak benar sama sekali.
Dalam Islam, bukan kebebasan seperti itu yang dianjurkan. Orangtua harus bermusyawarah dengan sang anak, sebelum membebaskan anak memutuskan sebuah kehendak. Itu artinya, orangtua harus betul-betul mengetahui, bahwa apa yang dipilih sang anak betul-betul berlandaskan argumen yang benar.
Jadi bagaimana mempersiapkan SDM yang handal dari lingkungan keluarga ?
Itu tercantum dalam surat An-Nisaa' ayat 114. Tak ada kebaikan sedikitpun dari pergaulan kecuali kita membicarakan kejujuran, kebaikan dan kebenaran. Tak ada sesuatu yang wajib diketahui, kecuali ilmu- agama- bahasa yang mampu menyebarkan kedamaian, ketentraman dan kemanfaatan. Jika orangtua selalu memberikan contoh teladan dan kerap berbicara tentang kejujuran, kebaikan, dan kebenaran, saya yakin akan muncul manusia-manusia dengan kualitas yang luar biasa.
Pesan bagi sahabat MQ berkaitan dengan persiapan membangun keluarga ?
Kita harus ingat sekali pada ayat qur'an : innalmubadziriin kaanu ikhwaanusyayaatiin. Mubazir adalah orang-orang yang akan menjadi teman setan, yaitu orang-orang yang hidup bukan karena Allah. Pastikan dan yakini oleh kita, bahwa pasangan kita adalah pasangan yang akan bersama-sama kita dalam menggapai cita-cita menuju ridha Allah. Melangkahlah selalu hanya untuk mendapatkan ridha Allah. Kita harus selalu merasa "sujud" kepada Allah, dalam setiap aktivitas. Ketika kita menjemput rizki hakikatnya dalam kondisi sujud, sedang merendah dihadapan Allah. Jadikan ridha Allah sebagai nafas hidup kita, dalam kehidupan kita, dan pastikan itu terjadi sejak mula kita menapak remaja. (red/asuy)
Hilman Rosyad : Ajak Ahmadiyah Debat Terbuka
Ustadz H. Hilman Rosyad Shihab Lc, dilahirkan di kota Bandung, pada 29 Juni 1969. Ayah tiga anak ini Aktif sebagai Anggota Komisi I DPR RI, dari Fraksi Keadilan Sejahtera (FKS), yang menanggungjawabi bagian pertahanan, luar negeri dan informasi. Suami Masfarwati Muslim ini dikenal sebagai sosok ulama serba bisa. Mulai dari pengasuh acara radio, sebagai Dewan Syariah Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid bandung (DPU-DT), hingga menjadi munsyid di Tim Nasyid Shoutul Harokah, pernah dilakoninya. Pendidikan terakhir beliau adalah Fakultas Hadits dan Studi Islam, University Of Madinah, Saudi Arabia.
Berkenaan dengan kembali mencuatnya isyu atau wacana untuk meneliti kembali kesesatan Ahmadiyah, pasca pengrusakan di Kampus Mubarok (pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia), reporter cyberMQ, Fiqi Fauzi yang akrab dipanggil Mang Uji ini, berhasil mewawancarai Ustadz Hilman. Berikut petikan wawancara dengan ulama muda yang berperawakan tinggi-besar ini :
Bisakah Ustadz sekilas menerangkan tentang ajaran Ahmadiyah ?
Ahmadiyah adalah ajaran yang meyakini adanya kenabian setelah Nabi Muhammad SAW. Ini tentu saja akan bertentangan dengan pendapat Jumhur Ulama. Bagaimanapun juga Jumhur Ulama, Ijma sahabat dan Al-Quranul Karim menyatakan bahwa Muhammad sebagai penutup para nabi. Itu yang menjadi masalah. Sampai akhirnya kemudian fatwa di hampir seluruh dunia Islam, menyatakan bahwa Ahmadiyah itu sesat. Bahkan, Saudi Arabia secara resmi menolak penganut Ahmadiyah untuk melaksanakan ibadah haji di Mekah Al-Mukarramah. Point lainnya yang harus dipahami bahwa Aliran Ahmadiyah ini didukung kuat oleh Inggris. Inggrislah yang melahirkan Ahmadiyah, sebagai penyeimbang kekuatan politik di India ketika itu, yang sekarang menjadi wilayah Pakistan. Dulu pakistan dan India bersatu. Perlindungan Inggris terhadap Ahmadiyah sampai saat ini masih berlangsung. Dan kita tahu, pusat Ahmadiyah dunia ada di Inggris, didanai jutaan Poundsterling, disiapkan televisi satelit 24 jam untuk seluruh dunia. Oleh karena itu, jelas bahwa penyebaran ajaran Ahmadiyah adalah upaya penggembosan kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Aliran ini dipelihara, karena relatif berhasil mengacaukan kekuatan politik umat Islam di Pakistan, sampai dengan detik ini.
Kesesatan apa saja yang terkandung dalam ajaran Ahmadiyah itu ?
Ada dua aliran dalam Ahmadiyah. Yaitu : Ahmadiyah Lahore dan Qadiyan. Aliran Lahore menganggap bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu), sedangkan Qadiyan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Yang berkembang di Indonesia itu adalah Aliran Ahmadiyah Qadiyan. Itu masalahnya. Inti kesesatannya adalah mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Qur'annya tetap pakai qur'an yang kita pakai, haditsnya memakai hadits Rasulullah, tetapi kemudian itu menjadi mansukh untuk banyak perkara. Saya terus terang kurang paham detail mana yang mansukh. Namun, secara otomatis ajaran itu menjadi tertolak. Ajaran Muhammad, Hadits, Qur'an akan tertolak karena ada ajaran baru yang disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Sejak tahun 1930, kasus Ahmadiyah di indonesia sudah membuka perdebatan yang digagas oleh Ustadz A. Hassan dari Bandung. Saya rasa masalah ini sudah lama selesai. Tapi mungkin kondisi politik yang memungkinkan mereka berkembang pelan-pelan, akhirnya mereka seperti yang kita lihat di Parung, di Kampus Mubarok.
Apa yang membuat Ahmadiyah bisa berkembang di Indonesia ?
Di Indonesia kondisi Islamnya lemah. Kekuatan politik tidak ada, partai politik Islam selalu bertengkar, sama juga ormas-ormas Islamnya. Ormas kehilangan visi dan arah. Realitas ini menunjukkan bahwa kondisi kita lemah. Akhirnya, banyak umat islam yang ingin mengetahui islam, maka kemudian aliran-aliran apapun di Indonesia bisa subur dan peminatnya banyak. Kita lihat, masyarakat berada dalam sistem orde lama 20 tahun, orde baru 30 tahun, dan setelah merdeka lebih dari 60 tahun sampai hari ini kita belum pernah eksis di negeri kita sendiri. Sehingga, aliran apapun sangat mudah memasuki Indonesia.
Terkait aksi pengrusakan yang kita saksikan di Televisi, bagaimana tanggapan Ustadz ?
Secara prinsip apapun jenisnya selama itu adalah anarkisme sangat tertolak dalam Islam. Sebab Islam adalah agama damai yang tidak mengajarkan bersikap anarkis. Sesuai dengan surat An-Nahl ayat 125, bahwa kita diperintahkan berdakwah dengan bijaksana, melalui nasihat yang baik. Jika terjadi perdebatan, harus dilakukan dilakukan dengan baik. Metode Ini pernah dilakukan A Hassan ketika berdebat dengan Ahmadiyah. Masyarakat menjadi yakin Ahmadiyah itu keliru setelah dilakukan perdebatan. Metode yang baik tidak dengan anarki. Seharusnya kita resmi undang mereka, kemudian disaksikan oleh semua, sehingga umat mengetahui mana yang haq, mana yang bathil, tidak dengan kekerasan seperti yang kita lihat.
Umat Islam harus bagaimana menyikapi kenyataan yang sedang dihadapi ini ?
Umat harus tetap bersikap realistis. Kita ikuti fatwa resmi Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan ajaran itu menyesatkan masyarakat. Kita himbau tetangga dekat untuk tidak mengikutinya. Tentu saja, dengan antisipasi lain, semisal dengan mengikuti pengajian-pengajian yang tidak sesat, serta ikut pengajian yang normal-normal saja.
Peran yang harus dimainkan pemerintah menyikapi hal ini ?
Pemerintah harus bersikap tegas, kalau tidak salah bagiannya kejaksaan yang harusnya melakukan pembinaan. Bagaimanapun juga, sesungguhnya pemicu konflik ini adalah mereka (pemerintah) sendiri, yang memancing umat bersikap. Pemerintah harus menghargai Fatwa MUI. Jika muncul ungkapan menghambat kebebasan berekspresi, saya rasa kebebasan itu ada batasnya. Kebebasan itu harus menyebabkan terjadinya kehidupan yang harmonis, peningkatan kualitas masyarakat. Jika perbedaan memperuncing persengketaan, menimbulkan konflik, saya rasa pengekspresian ini tetap harus dibatasi. Hari ini di Inggris sedang diajukan undang-undang baru tentang anti terorisme yang kemudian salah satu poinnya adalah tidak boleh ada selebaran atau tulisan apapun yang mengandung makna jihad atau syahid. Kalimat (jihad/syahid) tersebut merupakan terminologi, tidak bisa dihapus begitu saja, karena ada dalam Al-Quran dan Hadits. Jangan sampai untuk sebuah kebebasan berekspresi, membolehkan apapun dalam konteks pemikiran dan aqidah. Belum lagi dalam konteks gaya hidup akan lebih parah lagi. Kasus Ahmadiyah ini terkait dengan kebebasan ideologi dan keyakinan yang tidak bisa sembarangan.(red/fqzyn/aea)
Kak Seto : Anak Kurang Perhatian Pemerintah
Drs. Seto Mulyadi, dilahirkan di Klaten, 28 Agustus 1951. Kak seto demikian panggilan akrabnya, dikenal sangat concern masalah dunia anak dengan segala kreatifitasnya. Karir Ayah empat anak ini, mulai dari menderikan sekolah anak Mutiara Indoenesia hingga sekarang menjadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997) dalam pengalamannya pernah menjadi asisten tokoh anak, Pak Kasur. Pria yang awalnya bercita-cita menjadi seorang dokter, terus mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan anak-anak Indenesia. Pendidikan terakhir beliau adalah Program Pascasarjana Universitas Indonesia (Doktor bidang Psikologi tahun 1993). Beliau pun pernah mendapatkan penghargaan Social activity dari World Children’s Day Foundation dan UNICEF.
Berkenaan dengan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, serta adanya desakan Kongres anak yang menuntut pembentukan kementerian khusus bidang anak, reporter cyberMQ, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai Kak Seto, salah seorang penggagas ide tersebut. Berikut petikan wawancara dengan pendidik yang dikenal selalu ramah dan periang ini :
Tuntuan pembentukan Menteri khusus bidang anak, seperti apa ?
Seperti Menteri Pemuda dan Olahraga, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan. Anak-anak ini yang berusia 18 tahun kebawah sudah saatnya mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah. Selama ini masalah anak tidak dipikirkan secara terpadu, tetapi ditangani oleh berapa Kementerian atau departemen. Kita lihat contohnya, Departemen kesehatan ada yang mengurus anak, di Departemen Sosial, di Depdiknas pun ada, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan juga ada. Jadi akhirnya, justru cenderung mereka saling berlepas tangan.
Tanggapan Pemerintah ?
Pemerintah akan mempertimbangkannya. Namun, kita melihat pelanggaran-pelangaran anak sudah sedemikian parah. Anak-anak jalanan semakin bertambah, banyak anak-anak melakukan bunuh diri, berikut anak-anak yang kehilangan hak kesehatan, seperti penderita Polio ataupun penderita Busung lapar. Ada juga anak-anak yang terpaksa harus bekerja di industri, perkebunan, jalanan, atau menjadi pembantu rumah tangga. Tanpa perlindungan serius, bahkan semerta-merta menjadi barang yang bisa diperdagangkan. Ini akan mengancam masa depan bangsa kita. Bukan hanya hilangnya sebuah generasi unggul, tapi mungkin hilangnya sebuah bangsa karena berbagai tindak kekerasan bisa melahirkan figur-figur yang agresif. Sekarang saja sudah muncul berbagai konflik kekerasan dan terorisme. Jika kita tidak mempersiapkan pemimpin bangsa untuk masa yang akan datang semenjak usia anak-anak, saya betul-betul khawatir, 20 tahun lagi Indonesia bisa bubar.
Ide kementerian anak ada contohnya di negara lain ?
Ada. Contoh dekatnya di Australia, ada Department Of Child Welfare, Departemen Kesejahteraan Anak. Mereka sangat serius mengurusi anak dengan membentuk departemen khusus. Jadi, silahkan kepada pemimpin bangsa, apakah sudah mulai menyadari atau belum, betapa pentingnya sebentuk perhatian serius terhadap generasi penerus ini. Siapapun menterinya, yang penting departemen atau kementerian khususnya ada. Saya pernah berbincang dengan Menpora, beliau mendukung bahkan memberikan data-data bahwa dana untuk anak yang ada di Depdiknas sekitar 5 trilyun, sedangkan Menpora saja anggaran pertahunnya hanya sebesar 350 milyar. Itu saja sudah cukup memberdayakan sebuah kementerian khusus. Jadi, kenapa kementerian khusus untuk anak ini tidak ada ?
Perkembangan anak Indonesia secara keseluruhan ?
Secara keselurahan masih banyak yang belum terpenuhi. Hak anak untuk tumbuh dan berkembang masih banyak terhambat, baik menyangkut kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Anak-anak yang stres, anak-anak yang tetekan, anak-anak yang bermasalah secara psikologis itu masih banyak sekali. Walaupun tanpa menutup mata terhadap kenyataan bahwa masih banyak anak-anak berprestasi, seperti pemenang olimpiade matematika atau olimpiade fisika tempo hari. Prestasi mereka patut dipuji, keberadaan mereka patut disyukuri. Tapi, sebagian besar anak-anak masih berada dibawah garis kemiskinan dan keterbelakangan. Ini harus juga diakui dan harus segera diatasi dengan upaya serius.
Pembelian dan penjualan anak latar belakangnya apa ?
Sebagian besar pelanggaraan hak anak ini dilatarbelakangi oleh kemiskinan. Jadi, perlu adanya pemerataan hak ekonomi di kalangan masyarakat, sehingga kemiskinan yang sering menjadi alasan untuk melakukan pelanggaraan hak terhadap anak itu juga bisa dikurangi.
Program apa yang akan dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak?
Terus mengkampanyekan pentingnya perhatian terhadap anak. Selain mendesak pemerintah menyelenggarakan berbagai kegiatan positif untuk menampung aspirasi anak, seperti kongres anak Indonesia yang baru lalu. Hal ini penting. Agar suara-suara anak di seluruh Indoensia itu didengarkan oleh pemimpin bangsa.
Kenapa tertarik ke dunia anak ?
Saya melihat perhatian terhadap anak-anak ini sangat kurang. Sehingga saya juga mengharapkan, supaya generasai muda, apakah rekan-rekan mahasiswa atau remaja, mulai peduli terhadap isyu anak. Bisa dengan pembentukan semacam Kompak (kelompok remaja pecinta anak). Maksudnya, supaya ada suatu pemberdayaan potensi bangsa, ada rangsangan mental lebih kaya terhadap anak-anak. Saya sendiri mempunyai motto, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai anak-anak. (red/fzyqn)
Didiek :" Kerjasama Ini Banyak Membuka Lapangan Kerja"
Didiek J Rachbini, dilahirkan di Pamekasan, Madura, 2 September 1960. Ayah tiga anak ini aktif sebagai anggota Komisi VI DPR-RI dari Fraksi PAN. Ekonom indonesia yang kerap mengkritisi kinerja pemerintah ini pun mnejadi dosen Pascasarjana Program Magister Manajemen di Universitas Indonesia. Perjalanan hidup anak juragan tambak garam ini sangat beragam dan penuh kegigihan, hingga mengantarkan dirinya menempati posisi Ketua DPP Partai Amanat Nasional (2000-2005). Pendidikan terakhir beliau adalah S3 (PhD) Studi Pembangunan, Central Luzon State University, Filipina (1991).
Berkenaan dengan upaya Pemerintah Republik Indonesia menyepakati 5 nota kesepahaman dengan Pemerintah Republik Rakyat China, Reporter cyberMQ, Fiqi Fauzi berhasil mewawancarai Dr. Didik J Rachbini disela-sela kesibukannya. Berikut petikan wawancara dengan ekonom Indonesia yang dikenal berpenampilan kalem ini :
Menurut Bapak nota kesepahaman antara China dengan Indonesia seperti apa ?
Setiap negara yang melakukan transaksi perdagangan dengan negara lain, merupakan keniscayaan dalam rangka mengaktualisasikan ekonominya masing-masing. Semakin banyak berhubungan investasi dengan negara lain, maka kedua belah pihak secara normatif akan lebih banyak keuntungannya. Nabi pun berdagang kemana-mana, hanya dalam konteks perjanjian-perjanjian, terutama bidang investasi harus seimbang. Tidak boleh ada satu pihak posisinya berbeda, satu lebih tinggi yang satunya lagi lebih rendah. Itu semua yang harus diutamakan oleh pemerintah dalam melakukan diplomasi ekonomi, karena itu tugas pemerintah. Jadi, bertransaksi dengan siapapun merupakan keniscayaan, tidak bisa tidak harus kita lakukan. Kita kembangkan dengan sebaik-baiknya usaha-usaha perdagangan dan kerjasama itu.
Apa baik buruk kerjasama ini ?
Setiap usaha ekonomi baik pabrik, hotel maupun usaha lainnya semakin banyak semakin bagus, karena akan membuka lapangan kerja kepada siapapun. Jadi kepada semua pihak, baik investasi dalam negeri maupun luar negeri diberi kesempatan berinvestasi dengan baik. Jika kesempatannya hanya satu prioriotas, harus diberikan kepada pengusaha nasional serta diberi kemudahan yang lebih baik. Berarti, investor-investor negara lain juga diberi. Jika ada dua pabrik, satu pabrik dari pengusaha nasional, satu pabrik dari luar negeri berarti yang bekerja dua kali lipat, yang mendapatkan nafkah dua kali lipat. jadi, hal tersebut akan memperbaiki keadaan dan kita harus menganut ekonomi terbuka agar semakin maju. Semua negara-negara maju menganut ekonomi terbuka, namun tetap prioritas insentif, maupun dukungan pemerintah harus berpihak kepada pengusaha nasional. Sebaliknya, untuk wilayah yang tidak dikerjakan pengusaha nasional, serahkan saja dan berikan kesempatan kepada pengusaha luar negeri.
Keuntungan signifikan dengan China ?
Keuntungannya banyak pabrikan membuka lapangan kerja, memperluas kerjasama ekonomi serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kerugiannya, jika kita tidak hati-hati maka usaha-usaha dalam negeri akan tergusur. Kita tidak boleh menutup mata, namun kita harus mengurangi kelemahan.
Upaya peningkatan ekonomi makro ?
Membuka lapangan kerja, itu ekonomi ekonomi makro. Jika kita tidak aktif menginvestasikan, maka uang kita tersedot keluar. Jadi kelebihan dan keklurangannya harus kita perhatikan. Seperti kita mencari nafkah, maka dapat keuntungan. Sebaliknya kita pun akan mengalami kerugian jika kita tidak hati-hati. Pertanyaan yang muncul, apakah kita tidak boleh cari nafkah ?
Nilai politis kerjasama ini apa ?
Sekarang yang jadi masalah adalah persepsi menterinya. Menterinya perrnah menyampaikan pernyataan di beberapa media, bahwa dia meletakan posisi Indonesia di bawah subordinasi China dan kita menjadi jadi satelitnya. Pandangan pejabat negera ini, khususnya Menteri Perdagangan kurang bijaksana. Tidak boleh seorang menteri sampai mengatakan seperti itu. Memang kekuatan China sangat besar, namun sebagai pejabat negara tidak boleh lah menyampaikan seperti itu. (red/fzyqn)***
Didi Petet : "Harus Ada Revolusi Total Pembinaan Watak Bangsa"
Aktor yang dikenal sebagai pemeran "Si Kabayan ini meski sudah senior masih saja terlibat dalam produksi film maupun dunia layar lebar. Aktor gaek penerima penghargaan Special Achievement pada MTV Movie Awards 2004 kerap menjadikan dunia perfilman kembali hidup. Ayah 5 orang anak ini, selain menggeluti dunia entertainmen, didi menjadi Dekan Fakultas Seni pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pria yang kerap terlihat dengan rambutnya yang terkuncir ini sedang menggarap film layar lebar untuk membangun kembali nafas perfilman Indonesia yang di masa silam membuat harum negeri ini. Bukti kepeduliannya terhadap dunia perfilman Indonesia, Pendiri Teater Pantomime Sena Didi Mime pun tidak tanggung-tanggung mendirikan sekolah akting, sebagai wahana penyaluran bakat generasi muda dalam membuat produksi film berkualitas. Baru-baru ini pria yang bernama asli Didi Widiatmoko ini mendapat jabatan baru menjadi dosen di Jurusan Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FSS), Universitas Pasundan Bandung.
Bapak 5 anak ini telah membintangi beberapa film diantaranya; Tentang Dia (2005), Pasir Berbisik ( VCD ) 2002 Kabayan 13 : Namaku Wayan (2001) , Si Kabayan : Mutiara Cinta (2001), Petualangan Sherina (2000), Om Pasikom (1992), Catatan Si Boy (1990), Si Kabayan Saba Kota (1989), Namaku Joe (1988). Pria yang dulu berperan sebagai Emon dalam film Catatan Si Boy telah menerima beberapa penghargaan diantaranya ; Aktor peraih Piala Citra FFI 1988. Pemeran Pembantu Pria Terbaik FFI (Cinta Anak Jaman) 1988.
Berkenaan dengan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI ) ke-60, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi, berhasil mewawancarai Didi Petet disela , kesibukannya membuat Film layar lebar yang akan segera tayang. Berikut petikan wawancara :
Makna kemerdekaan ?
Bagi saya itu adalah semacam sebuah kebutuhan manusia maupun bangsa. Maksud saja dalam hidup juga pun harus. Saya pikir bahwa itu penting sekali bagi kehidupan manusia itu sendiri.
60 tahun merdeka, masih ada masyarakat belum merasakan merdeka ?
Ya macam-macam seperti hal-hal yang sifatnya politis. Menurut saya bukan itu yang dimaksud, persoalan initnya bukan itu. Seperti juga beragama, kenapa orang bukan islam kaya raya, sedangkan Islam malah tidak. Kalau itu sebagai contoh. Merdeka ya merdeka, hak semua orang hak berbangsa. Cuma bedanya mungkin dalam pendidikan karena pendidikan ilmu pengetahuan yang sebagain orang merasa kurang mendapat pendidikan. Kita melihat orang yang tidak berpendidikan merasa sebagai orang yang kurang merdeka. Itu hanya perasaan saja. Tapi sebagai bangsa seharusnya mereka berhak mendapatkan pendidikan.
Saran kepada pemerinatah terkait pemerataan ekonomi masyarakat ?
Saran sudah banyak, percuma ngasih saran tidak dianggap, karena urusan mereka pun juga banyak, dan menumpuk. Yang bisa dilakukan, kita kerjakan di lingkungan kita sendiri tempat kita bekerja. Saya rasa itu yang sekarang ini harus kita kerjakan. Bukan kita menuntut pemerintah lagi ... pemerintah lagi. Pusing pemerinatah, kalau kita disana juga kita pasti akan pusing seperti itu. Tapi kalau masyarakatnya sendiri tidak hidup ya bagaimana ....
Pahlawan Veteran kita kurang perhatian ?
Sistem organisasi kita masih sangat rendah. Saya pikir itu tinggal masalah mengorganisasi, dan mendaftarkan para veteran sangat rendah sekali. Jangankan itu, mengurus orang berangkat haji saja pemerintah pusing . Jadi, memang kemampuan mengorganisasi kita masih sangat rendah. Kita tidak pernah punya kemampuan disana, harus kita akui itu. Sebenarnya mereka-mereka itu tinggal di daftarkan kemudian di berikan penghargaan serta dipenuhi hak-hak mereka . Sebetulnya itu saja, namun karena pengorganisasian kita yang carut marut maka tidak bisa mengelolanya.
SDM kita kalah dengan negara yang baru sejahtera ?
Negeri ini sejarahnya gampang di adu domba. Menurut sejarahnya sudah begitu, di omongin sedikit mudah diadu domba, di sini sedikit sudah pecah, diomongin sedkit sudah marah. Itu sudah sejarah dan watak bangsa kita. Cara merubahnya harus ada revolusi total mengenai pembinaan watak bangsa ini. Kalau tidak, ya akan seperti ini terus, tidak pernah satu tujuan, tidak pernah satu pikiran, tidak pernah bisa mendukung satu sama lain. Ini yang berbahaya di negeri ini, kayaknya iri saja kalau ada orang yang sukses. Ini sejarahnya kan begitu... . Coba kita lihat sejarah, isinya cuma itu, yang satu jadi raja, yang lain ingin menumangkannya. Hanya seperti itu saja terus tidak ada selesainya. Nah.. pembinaan ini harus diselesaikan, apalagi sekarang lebih tidak karuan lagi.
Pembinaan generasi muda kita ?
Sekarang ini apa yang terjadi kita sudah menjadi satu bagain dari informasi global yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita terima. Sementara kita sendiri tidak sadar informasi global ini membentuk sifat dan tabiat orang menjadi beda. Nah.... ini yang harus disosialisasikan, saya pikir kepada generasi tuanya supaya sadar betul bahwa kita ini sudah tanpa batas. Sekarang ini negara sudah tidak ada batas, siapa saja sudah bisa melihat yang lain dan yang lain sudah bisa melihat yang lain. Sementara kita tidak pernah sadar, kita masih sibuk oleh kebutuhan pribadi yang seharusnya masuk kebutuhan sekunder, malah menjadi kebutuhan primer. Saya pikir kesalahannya tetap terletak pada orang tuanya, bukan pada generasi mudanya. Intinya terletak pada pembinaan orang tuanya, kita tidak sadar kesana. Orang tuanya yang salah, wong generasi mudanya hidup sekarang kok... kita tidak pernah siap dan tidak pernah mengetahui menjadi seperti ini.
Kegiatan sekarang apa ?
Saat ini saya menjadi Dekan Fakultas Seni pertunjukan IKJ, serta mengajar. Selain itu sekarang sedang menggarap beberapa film layar lebar yang segara di putar
Pepeng : " Kita Jadi Lebih Permisif "
Siapa tidak tahu acara “ kuis jari-jari” yang menjadi tayangan dengan rating tertinggi pada salah satu stasiun televisi swasta pada jamannya?. Dialah Ferrasta Ferrasta Soebardi, biasa diopanggil pepeng ini menjadi penggagas, pengonsep acara, sekaligus pembawa acara yang menarik perhatian pemirsa. pria yang telah dua kali keluar masuk pasca sarjana Antropologi Universitas Indonesia, kini kembali ke kampus dengan mandaftar ke pasca sarjana Fakultas Psikologi jurusan Intervensi sosial. Pria kelahiran Sumenep 23 September 1954 ini sudah lama berkecimplung di dunia hiburan. Karirnya bermula ketika menjadi pemenang dalam perlombaan Lawak Mahasiswa 1978, jura kedua Krisna , dan ketiga Nana Krip. harapan pepang ikut loba tersebut sebagai tambahan biaya kuliah. Buah dari juara lomba lawak membuat grup lawak yang diisi oleh rekannya sendiri yang tidak lain Nana Krip dan Krisna dengan nama Bahana Joke. Tahun 1986, pepeng dan dua kawan lainnya diajak Sys NS bergabung dalam Sersan Prambors. Sukses di dunia lawak, Pepeng ingin mencoba merambah ke dunia film. Hasilnya, beberapa film telah dibintanginya antara lain Rojali dan Juleha (1979), Sama-Sama Enak (1986), dan Anunya Kamu (1986). seiring dengan perjalanan, tahun 1987 Sersan Prambors bubar, nama Pepeng hilang begitu saja di ingatan penggemar lawakan elit. pepeng memilih karir selanjutnya menjadi pegawai Bank Pinaesan (1998), kemudian pindah ke Bakrie Brother (1989).
Berkenaan dengan ulang tahun televisi, reporter CyberMQ, Fiqi Fauzi berkesampatan melakukan wawancara dengan Ferrasta "pepeng" Soebardi disela-sela kesibukannya membuat produksi untuk bulan ramadhan. Berikut petikan wawancara dengan artis yang dikenal sangat kocak :
Kondisi televisi kita sekarang ?
Kondisi media Televisi kemajuannya sudah bukan main, apalagi sekarang muncul televisi-televisi lokal. Masalahnya sekarang tinggal content sangat harus hati-hati. Artinya ada beberapa televisi yang menampilkan acara nakal dan murahan. Kemajuan secara positif harus kita akui, seandainya kita memakai standar zaman sebelum ada televisi swasta kemajuannya bukan main. Artinya kalau standar televisi swasata sebelum era trans, apalagi sekarang sudah ada tv lokal. Saya pikir kita harus main di permukaan, apa yang kelihatan oleh kasat mata, baik sifatnya yang filosofis seperti dunia binatang atau sejarah, misalnya jalur sutra dari china bagaimana cara berdakwah dan segala macamnya. Subhanallah bagus banget .... nah itu sponsor kita belum ada yang seperti itu dan belum mau. Beberapa kali saya punh mengajukan proposal untuk acara yang bersifat edukasi sponsor masih belum tertarik. Ya.... mungkin karena penonton kita memang tidak menyukainya.
Tayangan sinetron, efeknya negatif ?
Saya pikir tidak bisa salahkan seperti itu semata-mata. Kita harus menyeluruh, secara sosial kita jadi lebih permisif. Sekarang kita lihat anak kecil punya tokoh panutan, semakin gede menemukan panutan, kita juga punya panutan meski sudah tua. Oleh karena itu, kejadian anak menghardik orang tuanya, saya pikir tidak semata-mata karena media, tapi secara keseluruhan dipertajam oleh media. Saya pikir kita sebagai keluarga harus bisa menyaring tayangan yang ada. Peluang untuk jadi seperti itu sangat besar sekarang apalagi dengan munculnya media-media seperti internet. Bahkan ada kejadian anak berumur umur 4 tahun tiba-tiba melihat hal yang tidak pantas karena telah dicontohkan oleh keluarganya
Adanya KPI langkahnya sudah dirasakan ?
Saya gak berani ngomong.... teman saya banyak disana. Sekarang, kita tidak bisa terlalu steril, tapi artinya ada standar. Kita tidak bicara televisi dulu, kita bicara hukum dulu. Kita ada filter, filter untuk mengatakan bahwa ini salah, ini benar, lalu kita tahu standarnya seperti apa. contohnya, seperti Pepeng yang mau menjadi orang baik, seandainya tahu standar yang benar baik dan benar ini adalah A , maka saya akan transfer kepada anak-anak saya. Masalah pertelevisian kita paling jago bikin peraturan. Waktu saya membuat standar Operating Procedur (SOP ) saya ditertawakan, karena pihak yang terlibat dalam dunia televisi mempunyai data yang sangat lengkap. Kita itu memang hutannya undang-undang, sekarang tinggal implementasinya. Masalahnya, siapa yang punya itikad baik untuk menjadi martil bahwa ini gila, harus diterabas.
Mengapa sulit diberantas ?
Sekarang persentasi yang memperjuangkannya tidak sepadan dengan orang yang mempunyai kekuatan dalam hal ini pemerintah. Kita juga instrospeksi artinya bahwa pemimpin itu gambaran dari rakyatnya.
Kalangan artis ada kepedulian ?
Tidak semua, tapi insya Allah ada. Walaupun mereka hanya sebenatnya dibilang gak care... ya care. Contohnya kami buat pengajian-pengajian, banyak yang ikut. Namun, ketika membahas permasalahan yang ada di masyarakat, kadang-kadang mereka suka memisahkan masalah itu.
Peran agama sebagai filter ?
Itu penting, di keluarga harus ditanamkan. Kita harus sering diskusi dengan anggota keluarga kita, karena ketika kita berada di luar lingkungan kelurga sudah beda tata nilainya.
aktivitas sekarang ?
Saya sedang kuliah S2 Fakultas Psikolgi Jurusan Intervensi Sosial. Kegiatan lainnya masih memproduksi acara untuk ditayangkan pada bulan ramadhan nanti. Tidakk lupa juga sedang mempersiapkan acara jari-jari edisi Ramadhan. (red/fzyqn)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home